Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Terdampak Pademi, Konsumsi Daging Dunia Terpangkas 3 Persen Tahun Ini

Dampak ekonomi akibat pandemi virus corona membuat konsumen mengurangi anggaran untuk bahan makanan, sehingga konsumsi daging tahun ini diperkirakan turun 2,8 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 Juli 2020  |  16:56 WIB
Lapak pedagang daging sapi dan daging kambing di Pasar Induk Xinfadi, Distrik Fengtai, Kota Beijing. (ANTARA - M. Irfan Ilmie)
Lapak pedagang daging sapi dan daging kambing di Pasar Induk Xinfadi, Distrik Fengtai, Kota Beijing. (ANTARA - M. Irfan Ilmie)

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi virus corona menyebabkan konsumsi daging per kapita anjlok hingga ke angka terendah dalam sembilan tahun terakhir.

Menurut data dari Organisasi Pangan Dunia (FAO), konsumsi daging tahun 2020 diperkirakan turun 2,8 persen menjadi 42,4 kg per tahun per kapita dibandingkan tahun lalu sebesar 43,6 kg per tahun per kapita.

Angka itu merupakan penurunan terbesar sejak setidaknya 2000. Sementara itu, analis di seluruh dunia memperkirakan penurunan tidak hanya per kapita, tetapi juga untuk permintaan keseluruhan di seluruh dunia.

Para analis memperkirakan, penurunan dramatis ini tidak akan kembali ke tingkat sebelum pandemi setidaknya setelah 2025 yang dipengaruhi berbagai faktor.

Dampak ekonomi akibat pandemi virus corona membuat konsumen mengurangi anggaran untuk bahan makanan. Penutupan restoran juga telah menganggu permintaan. Di China, yang menyumbang sekitar seperempat dari konsumsi dunia, ada ketidakpercayaan yang tumbuh pada produk hewani setelah pemerintah menyarankan hubungan antara protein impor dan wabah di Beijing.

Gangguan pada produksi, seperti wabah tanaman yang memicu krisis industri di AS, juga menciptakan masalah pasokan yang menyebabkan berkurangnya konsumsi daging.

Pada saat yang sama, sekarang konsumen semakin terbiasa memasak di rumah. Sementara, sekitar 2,2 juta restoran di seluruh dunia dapat ditutup. Menurut Boston Consulting Group, sebelum pandemi, 50 persen dari semua daging dikonsumsi di luar rumah di AS.

"Orang masih akan mengonsumsi jumlah kalori yang sama, tetapi mereka akan melakukannya di rumah, di mana persentase daging lebih rendah," kata ahli agribisnis Boston Consulting Group Decker Walker, dilansir Bloomberg, Rabu (8/7/2020).

Proyeksi penurunan tahun ini juga akan terjadi setelah penurunan konsumsi global per kapita pada tahun 2019, ketika penyakit demam babi Afrika membunuh jutaan babi di China, mendorong harga daging babi eceran dan membatasi permintaan. Kerugian selama dua tahun berturut-turut akan berarti hampir 5 persen penurunan konsumsi per kapita sejak 2018, menurut data dari Organisasi Pangan & Pertanian PBB.

Masih ada kemungkinan bahwa total konsumsi dunia dapat meningkat tahun ini. Itu karena populasi bisa tumbuh lebih cepat daripada produksi daging. Namun, pengurangan per orang menandai titik balik bagi industri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daging pangan fao
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top