Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Trump Ancam Demonstran, Twitter Ambil Tindakan

Twitter menyembunyikan sebuah cuitan yang dituliskan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena dinilai melanggar kebijakan perusahaan mengenai ancaman kekerasan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  07:43 WIB
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020) -  Bloomberg / Stefani Reynolds
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020) - Bloomberg / Stefani Reynolds

Bisnis.com, JAKARTA – Twitter menyembunyikan sebuah cuitan yang dituliskan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena dinilai melanggar kebijakan perusahaan mengenai ancaman kekerasan.

“Tidak akan pernah ada 'Zona Otonomi' di Washington, D.C., selama saya menjadi Presiden Anda semua,” tulis Trump, merujuk pada sebuah daerah di Seattle yang diduduki oleh para demonstran.

“Jika mereka [demonstran] mencobanya mereka akan berhadapan dengan kekuatan yang serius!” tambahnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

Seorang juru bicara Twitter menerangkan ancaman untuk menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa merupakan hal yang melanggar aturan raksasa media sosial ini.

Cuitan tersebut masih menjadi bagian dari kebijakan Twitter khusus untuk para pejabat terpilih dan pemimpin dunia, meskipun tersembunyi. Pengguna harus mengklik untuk membukanya dan siapa pun tidak bisa memberikan like atau mengomentarinya.

Sementara itu, juru bicara kampanye kepresidenan Trump, Tim Murtaugh, mengatakan Twitter telah bersikap bias karena menyembunyikan unggahan sang presiden.

“Twitter telah menandai cuitan ini karena Pak Presiden mengatakan undang-undang akan ditegakkan jika pengunjuk rasa mencoba menduduki sektor di DC seperti yang mereka lakukan di Seattle," tulis Murtaugh dalam Twitter. Menurutnya, Twitter mendukung pendudukan yang ilegal.

Setelah bertahun-tahun tidak mengambil tindakan terhadap cuitan Trump yang seringkali dipandang kontroversial, Twitter telah mulai mengambil tindakan lebih agresif dalam beberapa pekan terakhir.

Pada akhir Mei, perusahaan menandai dua unggahan Trump karena berbagi informasi menyesatkan tentang surat suara. Ini merupakan bagian dari kebijakan baru untuk mencegah informasi yang salah atau membingungkan terkait pemilu.

Awal bulan ini, platform media sosial terbesar itu menghapus video kampanye Presiden Donald Trump yang diatribusikan untuk kematian seorang pria berkulit hitam bernama George Floyd yang tewas di bawah penanganan polisi Minneapolis.

Twitter juga menjelaskan bahwa video yang diunggah @TeamTrump menyalahi aturan hak cipta (copyright claim).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

twitter Donald Trump

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top