Terus Bertambah, Korban Vape di AS Capai 1.300 Orang, 29 Tewas

Wabah penyakit paru-paru yang terkait dengan vaping-konsumsi rokok elektrik-di Amerika Serikat terus meningkat hingga hampir 1.300 kasus dan korban meninggal terus bertambah.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  16:06 WIB
Terus Bertambah, Korban Vape di AS Capai 1.300 Orang, 29 Tewas
Ilustrasi - FOTO REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Wabah penyakit paru-paru terkait dengan vaping-konsumsi rokok elektrik-di Amerika Serikat terus meningkat hingga hampir 1.300 kasus dan korban meninggal terus bertambah.

Penyebab wabah tersebut masih belum diketahui secara pasti, namun petugas kesehatan hanya memberikan saran untuk menghindari konsumsi vape. 

Menurut data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, jumlah kasus penyakit terkait vaping telah mencapai 1.299 per Kamis 10 September 2019, atau bertambah lebih dari 200 kasus dalam seminggu terakhir.

“29 orang telah meninggal dunia karena mengalami sakit terkait vaping,” kata pejabat kesehatan seperti dikutip dari NYTIMES.COM, Jumat (11/10/2019).

Angka tersebut termasuk 219 kasus yang baru dan tujuh kematian yang baru dilaporkan. Adapun, lokasi kejadian tersebar di 49 negara bagian, termasuk di Distrik Columbia dan Kepulauan Virgin, AS.

Pekan lalu, seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dilaporkan meninggal dunia di Bronx, New York, yang merupakan korban termuda yang meninggal dunia akibat vaping.

Sementara itu, pekan lalu, pejabat berwenang di Utah dan Massachusetts membenarkan terjadinya kasus kematian terkait vaping yang pertama kali di negara bagian tersebut.

Di negara bagian Indiana pada Kamis sore lalu dilaporkan adanya dua korban baru yang meninggal dunia akibat konsumsi rokok elektrik.

Rentang usia para korban yang meninggal dunia berkisar antara 17 tahun hingga 75 tahun, dengan median 49 tahun.

Penyebab pasti penyakit tersebut masih belum diketahui. Akan tetapi, banyak korban yang mengaku mulai sakit setelah mengisap vape yang mengandung THC (tetrahydrocannabinol) alias produk ganja.

Beberapa orang lainnya menggunakan vape yang mengandung nikotin dan THC, dan sisanya dilaporkan hanya mengkonsumsi vape yang mengandung nikotin (tanpa campuran ganja).

Otoritas kesehatan federal dan negara bagian sedang menguji bahan vaping dan mempelajari sampel jaringan dan pasien untuk menemukan penyebab pasti wabah penyakit tersebut.

Mereka berfokus pada sejumlah kandungan produk vape seperti THC ilegal, campuran pelarut, zat pengencer, serta penggunaan bahan perasa yang mungkin beracun bagi paru-baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
warga as, Industri Vape

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top