Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hoaks Demo Mahasiswa : Rektor Unisba Bandung Biayai Pengobatan Seluruh Mahasiswa? Ini Faktanya

Aksi demo mahasiswa yang terjadi di Jakarta dan kota lainnya tak lepas dari munculnya hoaks atau kabar bohong. Di Bandung, Rektor Unisba disebut-sebut akan membiayai seluruh mahasiswa yang terluka dalam aksi pada Senin, 23 Septermber 2019. Bagaimana kabar sebenarnya?
Sejumlah mahasiswa korban bentrokan saat aksi unjuk rasa menjalani perawatan di aula kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), Jawa Barat, Selasa (24/9/2019). Puluhan mahasiswa korban bentrok saat aksi unjuk rasa tolak RKUHP dan RUU KPK di Gedung DPRD Jabar dan Gedung Sate dilarikan ke aula kampus Unisba sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit terdekat./ANTARA-Raisan Al Farisi
Sejumlah mahasiswa korban bentrokan saat aksi unjuk rasa menjalani perawatan di aula kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), Jawa Barat, Selasa (24/9/2019). Puluhan mahasiswa korban bentrok saat aksi unjuk rasa tolak RKUHP dan RUU KPK di Gedung DPRD Jabar dan Gedung Sate dilarikan ke aula kampus Unisba sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit terdekat./ANTARA-Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Aksi demo mahasiswa yang terjadi di Jakarta dan kota lainnya tak lepas dari munculnya hoaks atau kabar bohong. Di Bandung, Rektor Unisba disebut-sebut akan membiayai seluruh mahasiswa yang terluka dalam aksi pada Senin, 23 Septermber 2019. Bagaimana kabar sebenarnya?

Ketua Komite Litbang Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Santi Indra Astuti mengingatkan semua pihak untuk tidak lupa melakukan cek dan ricek atas berita yang beredar, termasuk di media sosial. "Terima kasih kepada semua pihak yang sudah melakukan cek dan ricek, tidak asal menyebarkan hoaks," ujar Santi.

Santi, yang juga salah satu dosen di Unisba Bandung ini mempersilakan menyarakan mengecek setiap informasi melalui laman www.turnbackhoax.id atau bisa juga melalui akun facebook Jabar Saber Hoax atau akun Twitter @jabarsaberhoaks

Sementara, di akun facebooknya, Santi menyebutkan sejumlah hoaks yang menerpa Unisba dan memberi penjelasan sebagai berikut:

1. Rektor Unisba akan membiayai pengobatan seluruh mhsw yang terluka dalam aksi kemarin. Ini hoaks ya. Sudah diklarifikasi Rektorat, NO. Bahwa Unisba semalam menjadi posko kesehatan, ya. Bahwa tenaga medis Unisba, juga rekan2 KSR dan FK turun tangan memberi pertolongan pertama, ya (thanks guys!). Tetapi urusan Unisba selanjutnya adalah memfasilitasi biaya pengobatan mahasiswa Unisba yang cedera kemarin
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10218206499807125&id=1028465271
2. Mahasiswa cedera parah kena tembakan peluru tajam. Tidak ada ya, jangan ngada2in hal2 yang nggak perlu diada2in, plis deh! Polisi menembakkan gas air mata dan water cannon. Kemarin itu tidak ada yang dar der dor pake peluru tajam. Jadi jangan percaya hoaks yang memprovokasi seperti ini. Polisi menjalankan tugas tanpa melibatkan senjata tajam. Kebanyakan cedera disebarkan efek gas air mata, juga salatri. Ayo buka kamus apa itu salatriii...
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1692061290925459&id=140438406087763
3. Unisba memberangkatkan mahasiswa ke Jakarta. Betul, mahasiswa Unisba ada yang pergi ke Jakarta, kaka-kaka. Betul, berangkatnya start dari kampus. Tapi, itu atas inisiatif sendiri. Tidak difasilitasi oleh Unisba.
4. Kuliah diliburkan. Kagak, dedek. Kuliah tetap berjalan. Dosen2 tetap menjalankan tugas mengajar. Pelayanan akademik berlangsung seperti biasa. Terimakasiiiih atas profesionalismenya

Penjelasan Rektor Unisba 

Dikutip Antara, Selasa (24/9/2019), 92 mahasiswa terluka akibat unjuk rasa berujung ricuh di depan Gedung DPRD Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (23/9) malam.

Para mahasiswa tersebut dirujuk ke empat rumah sakit berbeda, yakni Rumah Sakit Sari Ningsih, RS Boromeus, Halmahera dan RSUP Hasan Sadikin Bandung.

Sebelum dilarikan ke rumah sakit, ke-92 mahasiswa yang terluka karena berunjuk rasa menolak revisi UU KPK dan KUHP ditangani secara medis di Kampus Universitas Islam Bandung (Unisba).

Rektor Unisba Prof Setiadi, Selasa (24/9/2019), mengatakan pertolongan pertama untuk para korban dari berbagai kampus oleh Unisba merupakan solidaritas sebagai sesama mahasiswa dan bentuk kepedulian atas dasar kemanusiaan.

Rektor mengatakan, Unisba tidak pernah mempersiapkan tim medis sebelumnya untuk mengantisipasi adanya kejadian tersebut.

Menurut dia, Unisba dipilih sebagai tempat evakuasi karena menjadi kampus terdekat dengan lokasi unjuk rasa.

Dia mengatakan, sangat logis jika kejadian terjadi di Gedung DPR maka gedung yang paling dekat Unisba atau Unpas. Orang lari ke Unisba mungkin karena aksesnya mudah dan ruangan terbesar berada di tepi jalan.

"Saya kira berbagai perguruan tinggi juga akan menampung dan melakukan hal yang sama jika terjadi peristiwa serupa di mana pun berada," ujar Setiadi.

Setiadi juga merespons dugaan adanya mahasiswanya yang disebut menjadi provokator dalam kericuhan yang terjadi saat aksi tersebut.

Dia menyatakan pihaknya akan mengadvokasi mahasiswanya jika dugaan itu terbukti.

"Tentu akan kami advokasi, bantuan hukum, akan kami gerakkan. Kami banyak advokat, kalau betul terbukti ada provokator. Kalau sampai ke pengadilan kami bantu juga," katanya.

Menurut Setiadi gerakan untuk menyampaikan aspirasi dilindungi undang-undang. Dia menilai aksi unjuk rasa merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan bangsa.

"Sepanjang mereka menyuarakan kepentingan bangsa dan masyarakat, saya kira tidak perlu melarang asal dalam koridor hukum sebagaimana Undang-Undang tentang Menyampaikan Pendapat di Muka Umum," kata Setiadi.

Kuncinya, kata dia, tetap fokus pada tujuan semula, yaitu mengkritisi berbagai perundang-undangan yang akan datang tidak boleh berbelok arah.

Sementara Ketua Korps Sukarela (KSR) Unisba Faisal mengatakan dalam melakukan perawatan terhadap para korban, pihaknya dibantu berbagai elemen di antaranya KSR Universitas Pasundan, PMI Kota Bandung, dan petugas kesehatan dari Dinkes Kota Bandung.

Beberapa korban kebanyakan mengalami sesak napas akibat gas air mata, luka lemparan batu, lecet hingga dislokasi tulang dan hilang kesadaran.

Secara keseluruhan jumlah korban yang terdata ada 154 orang. "Sebanyak 62 orang dapat kami tangani secara medis di Unisba tapi 92 orang mahasiswa yang mengalami luka cukup serius sehingga harus dilarikan ke rumah sakit terdekat,” ujarnya.

Wakil Rektor III Unisba H Asep Ramdan Hidayat mengatakan, tidak ada dampak yang ditimbulkan akibat kejadian tersebut terhadap proses perkuliahan.

Asep menjelaskan, proses perkuliahan tetap berjalan seperti biasa meskipun pada hari ini terdapat beberapa mahasiswa Unisba yang tengah mengikuti aksi lanjutan di Jakarta.

"Adapun hari ini ada beberapa pergerakan mahasiswa yang menuju Jakarta. Dalam hal ini mereka punya peran masing-masing, yang di kelas tetap melakukan proses belajar seperti biasa sedangkan yang ke Jakarta kita doakan untuk dapat menyampaikan aspirasi dengan baik, santun dalam pengertian tetap berada dalam koridor peraturan yang berlaku," ujarnya.

Pihaknya mendapatkan informasi dari Presiden Mahasiswa Unisba bahwa terdapat sekitar 43 orang mahasiswa Unisba yang turut berpartisipasi dalam aksi tersebut.

Asep menjelaskan, Unisba tidak berusaha untuk mendorong atau melarang mahasiswa mengikuti unjuk rasa.

Dia mengatakan, idealisme mahasiswa sebagai kelompok intelektual harus diselamatkan sehingga tidak ada salahnya jika kampus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengemukakan pendapat di muka umum.

Pihak kampus punya pemahaman bahwa mahasiswa merupakan kelompok intelektual, punya keinginan dan cita-cita.

"Kita memahami bahwa ke depan bangsa ini akan dipimpin oleh mereka. Jadi biarlah mereka belajar karena belajar itu tidak selamanya di kelas tapi juga ada pelajaran lapangan jika mereka mengambil keputusan untuk ke Jakarta kita hargai asal tetap terkoordinir dan ada pelaporan," kata dia.

Motor Wartawan Rusak

Aksi mahasiswa di Bandung yang berujung ricuh juga menyebabkan satu unit sepeda motor wartawan televisi nasional rusak.

"Betul ada satu motor wartawan yang rusak akibat aksi kemarin," kata Ketua Ikatan Jurnalis televisi Indonesia (IJTI) Pengda Jawa Barat Iqwan Saba Romli.

Iqwan berharap kejadian serupa tidak terjadi kembali karena hal tersebut sangat berdampak untuk kinerja wartawan saat mencari berita di lapangan.

"Kita berharap jangan ada lagi demo rusuh dan jangan ada lagi perusakan kendaraan di lokasi demo," kata dia.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Saeno
Editor : Saeno
Sumber : Facebook/Twitter/Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper