Sikap Purnawirawan TNI-Polri Terbelah Soal Aksi 22 Mei, Ini Kata Menko Luhut

Fenomena terbelahnya sikap politik para purnawirawan TNI-Polri semakin terlihat jelas jelang pengumunan resmi pemenang Pemilu oleh KPU 22 Mei 2019.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  20:46 WIB
Sikap Purnawirawan TNI-Polri Terbelah Soal Aksi 22 Mei, Ini Kata Menko Luhut
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan - Bisnis/Aziz Rahardyan

Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena terbelahnya sikap politik para purnawirawan TNI-Polri semakin terlihat jelas jelang pengumunan resmi pemenang Pemilu oleh KPU 22 Mei 2019.

Sebelumnya, 108 purnawirawan TNI-Polri pendukung Prabowo-Sandiaga yang menyebut diri mereka Front Kedaulatan Bangsa, menyatakan akan mengikuti aksi 22 Mei di KPU demi mengawal dan melindungi rakyat.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan berharap seluruh purnawirawan TNI-Polri melihat situasi politik yang berkembang dengan kepala dingin.

"Memangnya hanya mereka yang purnawirawan. Saya kan purnawirawan juga," ujar mantan komandan Kopassus ini dalam acara Pemberian Taklimat dari Para Jenderal Purnawirawan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2019).

Sebab, adanya aksi terorisme berupa bom membuat Luhut khawatir. Menurutnya, sebagai bagian pemerintah dan tokoh TNI, informasi tersebut memang harus diwaspadai demi keselamatan rakyat itu sendiri.

"Apakah hanya mereka yang merasakan [mau melindungi] rakyat. Saya juga. Mungkin banyak juga di antara mereka itu belum pernah dengar desingan peluru. Jadi sudah, lah. Saya dan beberapa teman-teman ini kan juga tidak mau melacurkan profesionalisme kami," jelasnya.

Luhut menjamin, isu terorisme yang menunggangi aksi 22 Mei tersebut bukanlah isu politis yang sengaja dibuat-buat. Pemerintah dan aparat keamanan hanya berupaya mengingatkan demi keselamatan warganya.

"Kemarin ada yang bilang kita nakut-nakutin, kita tidak nakut-nakutin. Bahwa memang teroris yang sampai 29 orang itu kan berawal dari Sibolga. Ayahnya itu yang bicara ada anaknya bikin bom, ditangkaplah oleh polisi. Tetapi terus dilakukan pengejaran oleh Densus 88, ketemulah semua dan ini masih berkembang," jelasnya.

"Dari situ kita lihat hasil integorasinya, bahwa mereka akan melakukan pengeboman yang dianggap kafir. Tidak hanya 01, tetapi 02, termasuk juga aparat keamanan. Pemerintah harus beri penjelasan dong, kalau pemerintah tidak me-warning, ternyata terjadi aksi, kan pemerintah salah," tambahnya.

Luhut menambahkan bahwa sebagai perwira, dirinya berani mempertaruhkan integritasnya dengan informasi tersebut. Sebab, anaknya sendiri pun masih anggota aktif TNI.



Sementara itu, dalam acara ini Luhut didampingi pirnawirawan lain, yaitu mantan Danjen Kopassus Wismoyo Arismunandar dan mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Kiki Syahnakri.

Wismoyo mengaku sedih melihat situasi fenomena dukung-mendukung pasangan capres-cawapres menyebabkan sikap mengabaikan konstitusi, hukum, dan undang-undang.

Oleh sebab itu, Wismoyo mengajak seluruh purnawirawan tamtama, bintara, dan perwira TNI-AD agar menjaga sikap patriot dan kesatria, mengikuti proses demokrasi sesuai konstitusi, serta menjaga persatuan.

"Dalam keikutsertaan berdemokrasi agar tidak terbelokkan pengabdianmu oleh ajakan-ajakan kepentingan kekuasaan di luar konstitusi, hukum, dan perundang-undangan yang berlaku," ujar Wismoyo.

Selain itu, Wismoyo mengajak siapapun presiden terpilih agar mampu menangkap aspirasi yang berkembang dari seluruh masyarakat dan menjamin persatuan. Juga masyarakat luas agar aktif menjaga suasana keamanan dan keterriban yang kondusif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pemilu 2019, Pilpres 2019, Aksi 22 Mei

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top