Cegah Bunuh Diri, Anggota KPPS Harus Tes Kejiwaan

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Profesor Dr Syafruddin Kalo menyarankan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar calon anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) harus menjalani tes kejiwaan atau psikotes untuk menghindari terjadinya aksi bunuh diri.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 01 Mei 2019  |  07:01 WIB
Cegah Bunuh Diri, Anggota KPPS Harus Tes Kejiwaan
Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mengenakan busana tradisional dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 17, Sukoharjo, Malang, Jawa Timur, Kamis (25/4/2019). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA - Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU)  Profesor Dr Syafruddin Kalo menyarankan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar calon anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) harus menjalani tes kejiwaan atau psikotes untuk menghindari terjadinya aksi bunuh diri.

"Setiap anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), sebelum diterima terlebih dahulu dites kejiwaan maupun mentalnya," kata Syafruddin, di Medan, Selasa (30/4/2019).

Hal itu dilakukan, menurut dia, agar tidak terulang lagi anggota KPPS melakukan aksi  bunuh diri dengan cara meminum racun dan menikam tubuhnya sendiri dengan menggunakan pisau.

"Perbuatan tersebut jelas sangat memalukan dan juga merusak nama baik anggota KPPS di Tanah Air," ujar Syafruddin.

Dikatakan, anggota KPPS dengan tega mengakhiri hidupnya itu bisa saja dikarenakan tekanan mental pascapemilu serentak 2019.

Selain itu, bisa juga dikarenakan terlalu capai, kelelahan, dan mengalami stres saat melakukan pengisian formulir C1, sehingga mereka melakukan jalan pintas, dengan melakukan bunuh diri.

"Padahal perbuatan tersebut, juga dilarang dalam ajaran agama," ucapnya.

Psikotes

Syafruddin menjelaskan, dengan adanya psikotes terhadap calon anggota KPPS tersebut, maka dapat diketahui kepribadian, kejiwaan, tanggung jawab, dan tingkat kesulitan yang dapat mereka hadapi pada pemilihan umum (pemilu).

"Ke depan diharapkan tidak ada lagi anggota KPPS di Indonesia yang bunuh diri," katanya.

Sebelumnya, seorang anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Selasa (23/4/2019) sore, meninggal dunia diduga akibat bunuh diri.

Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sindang Beliti Ulu, Jamaludin, saat berada di Kantor KPU Rejang Lebong, Rabu (24/4/2019) , mengatakan anggota KPPS yang meninggal tersebut adalah Alhat Supawi (32) sebelumnya bertugas di TPS 2 Desa Karang Pinang, Kecamatan Sindang Beliti Ulu.

"Saat itu kami sedang melaksanakan rapat pleno tingkat PPK, dan mendapatkan informasi jika yang bersangkutan meninggal dunia karena minum racun, mengenai penyebabnya atau ada masalah apa kami tidak tahu," kata Jamaludin.

Dia menjelaskan, berdasarkan keterangan istri korban kepada petugas KPPS setempat, jika korban ini sebelumnya mengikuti rapat pleno rekapitulasi perolehan suara pemilu serentak di tingkat PPK selama sehari semalam.

Setelah mengikuti rapat pleno C1 ini, kata dia, korban terlihat bingung dan tampak takut serta stres berat, sedangkan penyebabnya belum diketahui dan masih dalam penyelidikan pihak yang berwajib.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bunuh diri, , Pemilu 2019

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top