Sri Lanka Cari 140 Orang yang Diduga Terlibat Bom Paskah

Aparat keamanan Sri Lanka tengah mencari 140 orang yang diduga kuat terkait dengan serangan bom mematikan pada Hari Paskah, akhir pekan lalu.
Annisa Margrit | 26 April 2019 17:47 WIB
Keluarga menaruh bom di makam Rexy Duglas (67), tiga hari setelah serangkaian bom bunuh diri mengguncang 3 gereja dan 4 hotel pada Hari Paskah, di sebuah pemakaman dekat Gereja St. Sebastian, Negombo, Sri Lanka, Rabu (24/4/2019). - Reuters/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA -- Kepolisian Sri Lanka tengah mencari 140 orang yang diyakini terlibat dalam serangan bom yang menewaskan 253 orang pada Hari Paskah.

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena mengatakan 140 orang itu diduga kuat terkait dengan ISIS, yang sudah mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa mematikan tersebut. Dia mengungkapkan banyak anak muda Sri Lanka yang terlibat dengan ISIS sejak 2013.

"Polisi sedang mencari mereka untuk ditangkap," ujar Sirisena, seperti dilansir Reuters, Jumat (26/4/2019).

Hampir 10.000 tentara dikerahkan untuk melakukan pencarian dan mengamankan tempat ibadah. Kekhawatiran akan terjadinya serangan balasan membuat pemerintah dan penduduk Sri Lanka ekstra waspada.

Dalam pengeboman yang terjadi pada akhir pekan lalu itu, 3 gereja dan 4 hotel menjadi sasaran. Korban tewas tak hanya mencakup warga Sri Lanka, tapi juga warga negara asing.

Sejauh ini, polisi memfokuskan penyelidikan mereka terhadap dua kelompok Islam domestik, yakni National Thawheed Jama'ut dan Jammiyathul Millathu Ibrahim, yang diyakini menjadi dalang pengeboman itu.

Sejumlah pejabat negara juga mengakui kekeliruan mereka tidak membagikan informasi dari intelijen India tentang kemungkinan adanya serangan. Sirisena menuturkan para pejabat tingkat tinggi tidak memberitahunya tentang hal itu.

Menteri Pertahanan Sri Lanka Hemasiri Fernando dan kepala kepolisian telah mengundurkan diri karena hal ini.

Sirisena juga menyalahkan Perdana Menteri (PM) Sri Lanka Ranil Wickremesinghe karena menarik intelijen untuk lebih fokus menangani persidangan para pejabat militer terkait kejahatan perang dalam perang sipil di negara Asia Selatan itu--yang berakhir pada 2009.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bom, sri lanka

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup