Gereja Dibom di Sri Lanka: Informasi Serangan Sudah Diketahui, tapi Pencegahan Gagal

Pemerintah Sri Lanka mengetahui informasi mengenai kemungkinan serangan sebelum serangkaian ledakan bom mematikan yang mengguncang hotel dan gereja di Kolombo dan dua kota lainnya, menurut perdana menteri negara itu.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 22 April 2019  |  07:52 WIB
Gereja Dibom di Sri Lanka: Informasi Serangan Sudah Diketahui, tapi Pencegahan Gagal
Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe berbicara kepada media di St. Anthony's Shrine di Kolombo, Sri Lanka, 21 April - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Sri Lanka mengetahui informasi mengenai kemungkinan serangan sebelum serangkaian ledakan bom mematikan yang mengguncang hotel dan gereja di Kolombo dan dua kota lainnya, menurut perdana menteri negara itu.

Perdana Meneri Ranil Wickremesinghe dalam keterangannya kepada wartawan tadi malam mengakui bahwa "ada informasi di" tentang kemungkinan serangan.

"Kita juga harus melihat mengapa tindakan pencegahan yang memadai tidak dilakukan," katanya.

Serangan terkoordinasi yang menewaskan sedikitnya 207 orang dan melukai lebih dari 450 orang lainnya adalah kekerasan terburuk di negara kepulauan Samudra Hindia itu sejak perang saudara berakhir satu dekade lalu. Namun, hingga kini belum ada klaim tanggung jawab langsung atas serangan tersebut.

Seorang juru bicara kepolisian mengatakan 13 tersangka telah ditangkap sehubungan dengan pemboman itu.

Wickremesinghe mengatakan "nama-nama yang muncul adalah nama lokal", tetapi mengatakan para penyelidik akan memeriksa apakah para penyerang memiliki "hubungan di luar negeri". Para pemimpin dunia menawarkan bantuan dalam penyelidikan, tambahnya.

Analis politik Minelle Fernandez dari Aljazera mengatakan bahwa pernyataan perdana menteri tersebut seolah menyindir Presiden Maithripala Sirisena, yang memimpin pasukan keamanan.

Hubungan antara kedua pemimpin berada pada titik terendah sepanjang masa setelah pemecatan Sirisena atas Wickremesinghe pada Oktober. Langkah itu memicu krisis politik selama seminggu yang berakhir setelah Mahkamah Agung membatalkan keputusan itu.

Pernyataan Wickremesinghe tentang menerima peringatan "mencerminkan hubungan yang retak antara kedua pemimpin" setelah krisis konstitusi Oktober.

"Presiden tetap bertanggung jawab atas polisi, tetapi perdana menteri mengatakan, baik dia maupun para menterinya tidak diberi informasi tentang informasi ini," katanya.

Sirisena kemarin mengatakan telah memerintahkan satuan tugas polisi khusus dan militer untuk menyelidiki siapa yang berada di balik serangan dan apa agenda mereka.

Akibat peristiwa nahas itu, Pemerintah Sri Lanka mengumumkan jam malam di Kolombo dan memblokir akses ke situs pesan media sosial, termasuk Facebook dan WhatsApp. Militer dikerahkan dan keamanan ditingkatkan di bandara internasional Kolombo.

Ruwan Wijewardena, menteri pertahanan Sri Lanka, menggambarkan pemboman itu sebagai "serangan teroris" oleh kelompok-kelompok agama seperti dikutip Aljazeera.com, Senin (22/4/2019).

Enam ledakan yang datang hampr bersamaan terjadi di pagi hari di Kolombo di Gereja St Anthony, tepat saat kebaktian dimulai, dan Hotel Cinnamon Grand, Shangri-La dan Kingsbury. Ledakan kuat menghancurkan langit-langit dan menerbangkan kaca jendela.

Sementara iu, tiga petugas polisi tewas ketika melakukan pencarian di rumah yang diduga aman di Dematagoda, di pinggiran Kolombo. Penghuninya meledakkan bahan peledak untuk mencegah penangkapan, menurut menteri pertahanan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gereja, teroris, sri lanka

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup