Rusia Siap Balas AS jika Berani Pasang Rudal Jarak Dekat

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Moskow akan menandingi setiap langkah Amerika Serikat apabila mengerahkan rudal nuklir baru yang menjangkau Rusia.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  08:38 WIB
Rusia Siap Balas AS jika Berani Pasang Rudal Jarak Dekat
Presiden Rusia Vladimir Putin - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Moskow akan menandingi setiap langkah Amerika Serikat apabila negara itu mengerahkan rudal nuklir baru yang menjangkau Rusia.

Putin, yang berbicara di hadapan elite politik Rusia dalam sebuah pidato tahunan pada Rabu (20/2/2019), mengungkapkan Rusia tak akan segan mengerahkan rudal yang menjangkau AS.

“Itu merupakan hak mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Tetapi, bisakah mereka menghitung [risikonya]? Saya yakin mereka bisa. Biarkan mereka menghitung kecepatan dan jangkauan sistem senjata yang kita [Rusia] kembangkan," kata Putin sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (21/2/2019).

Putin menyatakan Rusia tidak ingin melakukan konfrontasi atau mengerahkan rudal sebagai tanggapan atas penarikan diri Washington bulan ini dari perjanjian kontrol senjata nuklir atau INF. Namun dalam pidato tersebut, Putin menegaskan bahwa Rusia akan memberi respons tegas atas setiap kebijakan terkait nuklir yang diambil AS.

"Rusia akan terus didorong untuk mengembangkan dan mengerahkan berbagai jenis senjata yang tak hanya dapat menjangkau kawasan sumber ancaman, namun juga kawasan yang memegang keputusan untuk mengerahkan ancaman tersebut," kata Putin, merujuk pada AS yang bisa saja menempatkan rudal di kawasan yang mengancam Rusia.

Pernyataan Putin ini membangkitkan ingatan akan Krisis Misil Kuba pada 1962 ketika Rusia, Uni Soviet saat itu, membalas pengerahan rudal AS di Turki dengan mengirim rudal balistik ke Kuba. Peristiwa ini menjadi puncak konflik nuklir dalam Perang Dingin yang melibatkan kedua negara.

Hubungan AS dan Rusia kian memanas dalam beberapa waktu terakhir setelah AS memutuskan untuk menangguhkan kewajiban dalam perjanjian INF yang mengatur pengembangan rudal jarak menengah bagi Washington dan Rusia. Tak lama setelah pengumuman itu, Rusia pun menyatakan pihaknya menangguhkan diri dari keikutsertaan perjanjian tersebut.

Ditandatangani oleh Presiden AS Ronald Reagan dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev pada 1987, perjanjian itu dibuat untuk membendung persaingan senjata selama Perang Dingin. Keluarnya kedua negara dianggap oleh banyak pengamat dapat meningkatkan potensi lahirnya era perang senjata baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat, rusia

Sumber : Reuters

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top