Betulkah Jokowi Bohong Soal Reklamasi Lubang Tambang Jadi Kolam Ikan? Ini Kata Pakar

Selepas Debat Capres II terselenggara, capres petahana Joko Widodo dihujani kritik  dan dianggap berbohong soal reklamasi bekas galian tambang yang berguna sebagai tempat budi daya ikan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  18:25 WIB
Betulkah Jokowi Bohong Soal Reklamasi Lubang Tambang Jadi Kolam Ikan? Ini Kata Pakar
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) menyampaikan pendapatnya saat mengikuti debat capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Selepas Debat Capres II terselenggara, capres petahana Joko Widodo dihujani kritik  dan dianggap berbohong soal reklamasi bekas galian tambang yang berguna sebagai tempat budi daya ikan.

"Jadi selain penghutanan kembali kita juga melihat di beberapa tambang juga telah melakukan reklamasi kembali. Ada yang menjadi, misalnya pantai wisata, ada. Ada juga yang lubang galian yang telah dikerjakan tambang juga menjadi sebuah kolam ikan besar. Saya kira banyak hal," ungkap Jokowi saat Debat Capres II segmen Lingkungan Hidup, Minggu (17/2/2019).

"Memang ada satu, dua, tiga yang memang belum dikerjakan, tetapi sekali lagi dengan pengawasan Pemerintah Daerah, dengan pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup, saya meyakini satu per satu bisa diselesaikan," tambahnya.

Kini, pernyataan tersebut membuat aktivitas media sosial riuh lewat tanda pagar (tagar) #BohongLagiJokowi, #JokowiBohongLagi atau #CapresPembohongKelautAje, dengan menyebut bahwa berbagai literatur menunjukkan area bekas tambang tidak bisa digunakan untuk apa pun, apalagi kolam ikan karena terpapar radiasi.

Bagaimana fakta sebenarnya?

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FKIP) Universitas Diponegoro (Undip) Johannes Hutabarat memberikan penjelaskan terkait pemanfaatan bekas lubang tambang kepada Bisnis, Selasa (19/2/2019).

Pria yang akrab disapa Prof Jo ini memaparkan bahwa secara teknis reklamasi lubang tambang bisa digunakan sebagai tempat budidaya ikan. Bahkan, ide tersebut sudah dipraktikkan di beberapa tempat di Indonesia.

"Tapi itu sangat tergantung kondisi bekas lubang tambang itu. Pasti kita tidak bisa mengatakan bahwa semuanya bisa kita gunakan," ujar Johannes.

"Tapi sebelumnya, pasti dilakukan Studi Kelayakan terhadap kondisi bekas-bekas tambang itu, untuk mengetahui tentang kandungan tanah yang ada di bekas galian tambang tadi," tambahnya.

Johannes mencontohkan reklamasi tambang timah rakyat di Bangka dan tambang batu bara di Kalimantan kini telah dimanfaatkan Pemerintah Provinsi untuk budi daya ikan.

Kendati demikian, Johannes menitikberatkan perhatian agar pihak pengelola memenuhi prasyarat khusus sebelum lubang tambang tersebut digunakan, yaitu menjalankan dan mematuhi hasil studi kelayakan.

"Tambang yang mengandung banyak merkuri, kehati-hatiannya harus lebih tinggi, karena tambang-tambang yang seperti itu tidak akan masuk prioritas utama. Tambang yang mengandung merkuri itu tingkat B3-nya [Bahan Berbahaya dan Beracun] juga tinggi," jelasnya.

"Khawatirnya, kalau tidak di-treatment dengan baik, kandungan merkuri yang ada di bekas tambang itu masih ada di dalam air, sehingga kalau ikan yang kita budi dayakan tercemar oleh merkuri, kan kasihan yang mengonsumsi ikannya," tambah pria yang pernah menjadi Dekan FKIP Undip ini.

Setelah treatment, Johannes memaparkan bahwa reklamasi lubang tambang yang tidak terlalu tinggi tingkat pencemaran tanahnya, bisa disiasati dengan pemurnian wilayah tambang.

"Kalau tidak terlalu tinggi kadarnya, itu bisa dimanfaatkan dengan sebelumnya dilakukan treatment dulu. Bisa dikasih kapur, istilahnya purifikasi," ungkap Johannes.

Sedangkan bekas galian tambang yang masih memiliki logam berat berbahaya, tetapi masih dalam ambang batas aman yang ditentukan, bisa disiasati dengan penggunaan lapisan khusus.

"Kalau tambangnya mengandung bahan berbahaya beracun, yang B3 itu, maka [lubang bekas galian] tambang-tambang yang seperti itu bisa dipakai juga menggunakan lapisan bioplastik," ujar Johannes.

"Terutama tambak-tambak dengan tanah porous [berpori] itu. Tambak yang kadang-kadang airnya sering bocor," tambah Johannes.

Oleh sebab itu, Johannes menyatakan bahwa reklamasi bekas galian tambang untuk budi daya ikan bisa menjadi solusi. Asalkan, pihak pengelola mematuhi studi kelayakan, prasyarat khusus, dan senantiasa menjaga kondisi airnya.

"Kalau kita bisa melaksanakan manipulasi, dengan pemanfaatan sumber air bersih yang tersedia secara cukup dan sepanjang tahun sumber airnya ada, bisa kita lakukan apakah jenis ikannya air tawar, atau air payau, itu tergantung dari lokasi tambangnya," tutup Johannes.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, Debat Capres

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top