Hubungan Memanas, Prancis Tarik Dubes dari Italia

Pemerintah Prancis geram atas serangan bertubi terhadap Presiden Emmanuel Macron yang dilancarkan elit politik Italia.
Kahfi | 08 Februari 2019 01:49 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron. - Reuters

Bisnis.com, PARIS- Pemerintah Prancis geram atas serangan bertubi terhadap Presiden Emmanuel Macron yang dilancarkan elit politik Italia.

Sebagai penegasan sikap, Paris menarik pulang Dubes dari Roma, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (7/2/2019). Prancis menganggap serangan elit politik Italia melalui pernyataan kontroversial, tidak berdasar dan berulang-ulang.

Prancis mendesak para politisi Italia untuk kembali ke sikap yang lebih ramah.

Terutama dua wakil perdana menteri Italia, Matteo Salvini dari Liga sayap kanan dan Luigi Di Maio yang mewakili kelompok gerakan populis.

Dalam beberapa bulan terakhir keduanya telah memojokkan Presiden Prancis Emmanuel Macron atas sejumlah masalah.

“Prancis selama beberapa bulan, menjadi sasaran serangan berulang dan tak berdasar dan pernyataan keterlaluan, ”kata kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan.

"Memiliki perbedaan pendapat adalah satu hal, tetapi memanipulasi hubungan untuk tujuan pemilu adalah hal lain," tulis pernyataan itu.

Pemerintah juga menyebut serangan Italia tanpa preseden sejak Perang Dunia Kedua.

Di Maio menjuluki Prancis pencipta kemiskinan di Afrika dan bertemu dengan para pemimpin gerakan anti-pemerintah "rompi kuning", demonstran Prancis.

Sedangkan Salvini menuduh Prancis tidak melakukan apa pun untuk membawa perdamaian di Libya.

Dua wakil perdana menteri, yang meraih kekuasaan tahun lalu, tampaknya percaya bahwa menyerang Macron, akan memotivasi basis pemilih domestik mereka sebelum pemilihan Uni Eropa pada bulan Mei.

"Semua tindakan ini menciptakan situasi serius yang menimbulkan pertanyaan tentang niat pemerintah Italia terhadap Prancis," kata kementerian Perancis.

Kmenterian luar negeri Italia tidak segera berkomentar tentang keputusan Prancis, yang menurut sumber diplomatik belum pernah terjadi sebelumnya sejak 1945.

Tag : prancis, Emmanuel Macron
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top