'Shutdown', Ratusan Pekerja Amerika Demo di Depan Gedung Putih

Ratusan pegawai federal Amerika Serikat yang terpaksa berhenti bekerja dan tak digaji akibat shutdown melakukan aksi protes menuntut segera diakhirinya shutdown di luar Gedung Putih pada Kamis.
Iim Fathimah Timorria | 11 Januari 2019 11:00 WIB
Anggota persatuan pekerja pengawas penerbangan melakukan aksi protes di luar Gedung Putih menuntut diakhirinya shutdown parsial - Reuters/Jonathan Ernst

Bisnis.com, JAKARTA - Ratusan pegawai federal Amerika Serikat yang terpaksa berhenti bekerja dan tak digaji akibat shutdown melakukan aksi protes di luar Gedung Putih pada Kamis (10/1/2019).

"Kami ingin gaji kami! Hentikan penutupan!" teriak mereka, bersamaan penutupan layanan pemerintah yang memasuki hari ke-20.

Sekitar 800 ribu pegawai pemerintah federal AS harus dirumahkan atau bekerja tanpa bayaran selama shutdown yang terjadi akibat perselisihan Presiden Donald Trump dan anggota Demokrat di Kongres.

Rancangan undang-undang anggaran untuk seperempat departemen pemerintah AS menemukan jalan buntu lantaran dana pembangunan perbatasan AS-Meksiko senilai US$5,7 miliar yang diajukan Trump ditolak Demokrat.

Pembangunan tembok perbatasan adalah bagian dari kampanye Trump pada 2016. Ia beruang kali bersumpah Meksiko harus membayar tembok tersebut. Namun, ia justru enggan menandatangani RUU apa pun yang tak mencantumkan dana yang ia minta.

Elaine Suriano (62), seorang ilmuwan Badan Perlindungan Lingkungan menyatakan ia harus menggunakan simpanan pensiunnya untuk membayar tagihan jika shutdown berlanjut dan ia tak kunjung memperoleh gaji.

"Pemerintah jelas tidak memahami kondisi masyarakat biasa dan merasakan kehidupan nyata. Kalau mereka tahu mereka tak akan melakukan ini," kata Suriano melansir dari Reuters, Jumat (11/1/2019).

Shutdown yang dimulai pada 22 Desember 2018 itu kini telah memasuki minggu ketiga dan merupakan penutupan layanan terpanjang sejak pertengahan 1970-an. Trump bahkan mengatakan shutdown bisa berlanjut selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Banyak pekerja federal yang tak digaji menggalang dana secara daring seperi di GoFundMe.com untuk memperoleh bantuan pembiayaan pengeluaran, mulai biaya pangan sampai tagihan listrik.

Matthew Crichton (32), seorang pegawai Korps Perdamaian yang terdampak mengatakan ketidakpastian berapa lama shutdown membuatnya kesulitan menganggarkan kebutuhan primernya.

"Shutdown bisa berlanjut besok, bertahan berminggu-minggu. Ia bisa berlangsung berbulan-bulan. Rasanya memalukan mengetahui saya siap untuk bekerja tapi tidak bisa," ujar Crichton.

Tak hanya di Gedung Putih, aksi protes juga menyebar di seluruh AS. Dari Palm Beach, Florida hingga ke New York City dengan tuntutan serupa. Di Ogden, Utah, puluhan pegawai federal yang tidak bekerja berkumpul untuk mendesak diakhirinya penutupan, beberapa memegang poster bertuliskan “Saya TSA [pekerja keamanan transportasi]. Saya dirumahkan. Saya bukan bidak. Saya punya hak pilih!" dan " 800.000 pengangguran. Menyakiti keluarga dan ekonomi kita."

Trump tidak berada di Gedung Putih ketika para demonstran tiba. Ia tengah berada di kawasan selatan setelah melakukan perjalanan ke perbatasan AS-Meksiko di McAllen, Texas. Dalam kunjungan tersebut, Trump kembali mengancam akan mengumumkan keadaan darurat nasional jika tak usulan pendanaan tak kunjung disetujui Demokrat.

Sumber : Reuters

Tag : amerika serikat, Donald Trump
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top