Pidato Pertama Raja Salman Setelah Pembunuhan Khashoggi Terungkap

Raja Salman Bin Abdulaziz dari Arab Saudi berpidato untuk pertama kali di hadapan Dewan Syura atau dewan penasihat kerajaan sejak kasus tewasnya kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, terungkap.
JIBI | 20 November 2018 09:10 WIB
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud (tengah) melakukan ibadah salat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (2/3). - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - Raja Salman Bin Abdulaziz dari Arab Saudi berpidato untuk pertama kali di hadapan Dewan Syura atau dewan penasihat kerajaan sejak kasus tewasnya kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, terungkap.

Dalam pidato yang ditunggu-tunggu banyak pihak ini, raja berusia 82 tahun itu memuji upaya lembaga penegak hukum negara ini meski tidak menyebut kasus Khashoggi secara langsung.

“Lembaga telah melakukan tugas mereka dalam upaya menegakkan keadilan,” kata Raja Salman seperti dilansir Aljazeera pada Senin (19/11/2018), waktu setempat.

Seperti diberitakan sebelumnya, jaksa penuntut umum Arab Saudi mengumumkan telah mengajukan dakwaan terhadap 11 dari 21 orang tersangka pembunuh Jamal Khashoggi. Jaksa juga menyiapkan tuntutan hukuman mati terhadap lima orang yang diduga kuat terlibat langsung melakukan pembunuhan terhadap jurnalis senior berusia 59 tahun itu.

Jamal Khashoggi, seperti dilansir Anadolu, tewas di dalam kantor Konsulat Jenderal Arab Saudi pada 2 Oktober 2018 setelah ditangkap dan disiksa oleh tim pembunuh kiriman Direktorat Intelijen Umum Arab Saudi.

Tim pembunuh beranggotakan 15 orang itu datang pada dini hari ke Bandara Ataturk, Istanbul, Turki pada 2 Oktober 2018 menggunakan dua pesawat sewaan Gulfstream.

Arab Saudi telah memberhentikan Deputi Kepala Intelijen Arab Saudi, Mayor Jenderal Ahmed Al-Assiri, dan penasehat siber Saud Al-Qahtani, yang diduga kuat terlibat langsung dalam pembunuhan itu.

Saudi juga membentuk komite yang dipimpin Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman, untuk merombak Direktorat Umum Intelijen yang dianggap bertindak melebihi kewenangannya terkait kasus ini.

Namun, pemerintah Turki dan CIA menyatakan ada kemungkinan MBS, sebutan Putra Mahkota Saudi, terlibat dalam perintah pembunuhan itu, yang telah dibantah pemerintah Saudi.

Dukung PBB

Dalam pidatonya di hadapan Dewan Syura itu, yang dilakukan setiap tahun, Raja Salman juga mengatakan soal dukungannya kepada upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghentikan perang di Yaman, yang menimbulkan kelaparan massal dan bencana kemanusiaan.

Saat ini, sebuah koalisi pimpinan Arab Saudi sedang berperang melawan kelompok Houthi yang melawan pemerintah dan didukung Iran, yang telah berlangsung selama beberapa waktu terakhir.

“Sikap kami mengenai Yaman bukan merupakan opsi tapi sebuah tugas untuk mendukung bangsa Yaman dalam mengkonfrontasi agresi dari milisi dukungan Iran,” kata Raja Salman.

Raja Salman juga mendukung upaya dunia internasional untuk menghentikan program nuklir Iran.

“Rezim Iran selalu melakukan intervensi terhadap urusan internal negara lain, mensponsori terorisme, menciptakan kekacauan, dan kehancuran di banyak negara di wilayah ini,” kata dia.

Arab Saudi mendapat tekanan negara Barat khususnya Eropa karena tindakanya dalam perang Yaman, yang telah menewaskan banyak warga sipil lewat serangan udara yang menyasar pasar, rumah sakit dan bus angkutan sekolah.

 

 

Sumber : Tempo

Tag : arab saudi, Jamal Khashoggi
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top