PILPRES 2019 : Akankah Golkar Bermanuver di Menit Terakhir?

Pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengingatkan tidak terututup kemungkinn Partai Golkar melakukan manuver dengan membentuk poros baru di luar poros pendukung Jokowi pada menit terakhir.
John Andhi Oktaveri | 23 Maret 2018 11:05 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (keempat kanan) bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (keempat kiri) didampingi masing-masing pengurus partai berfoto bersama saat melakukan pertemuan di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Selasa (20/3/2015). - ANTARA/Aprillio Akbar

Kabar24.com, JAKARTA - Pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengingatkan tidak terututup kemungkinn Partai Golkar melakukan manuver dengan membentuk poros baru di luar poros pendukung Jokowi pada menit terakhir.

Menurutnya, hal itu perlu dicermati mengingat koalisi partai pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum solid.

Pangi menengarai, kerawanan akan muncul saat koalisi partai pendukung Jokowi akan menentukan siapa calon wakil presidennya.

Partai Golkar, sambung dia, sudah menyebut-nyebut usulan kadernya untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019. Tak mau ketinggalan PKB menyodorkan Muhaimin Iskandar dan PPP disebut-sebut menyiapkan kadernya, yakni Romahurmuziy.

"Pada saat pembahasan calon wakil presiden, saya memperkirakan kalau terjadi beberapa pilihan dan sulit mencapai titik temu, ada kemungkinan Partai Golkar akan keluar dari koalisi dan membentuk poros baru dengan mengusung nama baru sebagai calon presiden," katanya, Jumat (23/3/2018).

Menurutnya, manuver itu bisa terjadi meski koalisi partai-partai pendukung Jokowi ada lima yang berada di parlemen dan dua partai yang baru akan mengikuti Pemilu 2019.

Dari segi jumlah dan komposisi, koalisi tersebut memang kuat, namun dalam politik segala sesuatu bisa saja terjadi.

Poros Baru

Pangi menyebut peluang pembentukan poros baru dapat dilakukan Partai Golkar sebagai pemenang kedua Pemilu 2014 dan memiliki 91 kursi di parlemen.

Menurutnya, Golkar cukup merangkul satu partai politik lagi untuk memenuhi syarat presidential threshold 20% kursi di Parlemen atau 112 kursi.

"Kalau Pak Jokowi atau PDI Perjuangan, tidak cermat membuat keputusan, maka ada kemungkinan terjadi patahan di koalisi ini," katanya lagi.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie mengharapkan Joko Widodo (Jokowi) mengambil calon pendampingnya pada Pilpres 2017 dari kader Golkar.

"Insya Allah lah. Sekarang ini kan Pak JK. Alangkah baiknya juga dari Golkar lagi," kata ARB di sela-sela Rapimnas Golkar di Hotel Sultan tadi malam.

Kendati demikian dirinya belum mau menyebutkan siapa sosok dari Golkar yang pantas mendampingi mantan Gubernur DKI Jakarta itu pada Pilpres 2019 nanti.

"Saya kira nanti kita lihatlah dari Partai Golkar. Kan banyak dari Partai Golkar calon ya. Calon yang menonjol tentu ada," ujarnya.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini memastikan partainya akan mengusulkan pencalonan kadernya sebagai cawapres Jokowi.

Korbid Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia mengakui sudah muncul aspirasi kader agar Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto diajukan sebagai cawapres.

"Tidak menutup kemungkinan aspirasi serta pembahasan dalam skala terbatas tentang wacana Pak Airlangga Hartarto sebagai cawapres akan bisa mengemuka," ujar Doli.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pilpres 2019

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top