Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rusia Sangkal Racuni Mata-Mata, Menlu Inggris: Itu Tidak Masuk Akal

Menteri luar negeri Inggris meningkatkan kritik London terhadap Moskow pada Senin terkait serangan racun saraf terhadap mantan agen ganda Rusia di Inggris, menyebut penyangkalan Rusia dari tanggung jawab "semakin tidak masuk akal".
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 19 Maret 2018  |  19:46 WIB
Sergei Skripal berdiri di balik jeruji di ruang tahanan pengadilan Moskow, Agustus 2006. - kyivpost.com/Press Service of Moscow District Millitary Court
Sergei Skripal berdiri di balik jeruji di ruang tahanan pengadilan Moskow, Agustus 2006. - kyivpost.com/Press Service of Moscow District Millitary Court

Bisnis.com, BRUSSELS -  Menteri luar negeri Inggris meningkatkan kritik London terhadap Moskow pada Senin terkait serangan racun saraf terhadap mantan agen ganda Rusia di Inggris, menyebut penyangkalan Rusia dari tanggung jawab "semakin tidak masuk akal".

Boris Johnson, yang dijadwalkan memberikan paparan singkat pada mitra menteri luar negeri Uni Eropa-nya di Brussels pada Senin (19/3/2018), juga mendapatkan dukungan baru dari kelompok tersebut, meskipun diplomat memperingatkan bahwa kemungkinan tidak ada sanksi ekonomi baru atas Rusia terkait serangan tersebut.

"Penyangkalan Rusia semakin tidak masuk akal," kata Johnson kepada wartawan saat tiba untuk menghadiri pertemuan bulanan tersebut, yang digelar sehari setelah Vladimir Putin terpilih kembali untuk masa jabatan enam tahun berikutnya sebagai presiden Rusia.

"Ini strategi klasik Rusia. Mereka tidak membodohi orang lagi," kata Johnson.

"Hampir tidak ada negara di sekitar sini di Brussel yang belum terpengaruh dalam beberapa tahun belakangan ini dengan perilaku Rusia yang merugikan atau mengganggu," tambahnya.

Rusia membantah terlibat dalam percobaan pembunuhan Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, dalam bentuk penggunaan pertama gas syaraf yang diketahui di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Moskow mengumumkan pada Sabtu pengusiran 23 diplomat Inggris dalam sebuah respons langsung terhadap keputusan Inggris pekan lalu untuk mengusir 23 diplomat Rusia dari London.

Pada Minggu Johnson menuduh Rusia menimbun racun saraf era Soviet yang mematikan, yang disebut sebagai Novichok, yang digunakan untuk meracuni Skripals. Tuduhan itu dibantah oleh Moskow. Mereka ditemukan tak sadarkan diri di bangku di Kota Salisbury, Inggris, pada 4 Maret dan tetap dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Setibanya di pertemuan Brussels pada Senin, menteri luar negeri baru Jerman, Heiko Maas, menyatakan dukungannya untuk Inggris.

Seluruh 28 menteri luar negeri Uni Eropa diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan bersama mengenai serangan tersebut Senin malam.

Meskipun tidak ada kemungkinan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia yang disepakati pada Senin, Perdana Menteri Inggris Theresa May akan memiliki kesempatan untuk mempresentasikan kasusnya mengenai tindakan semacam itu pada pertemuan puncak Uni Eropa pada Kamis, atau menyeru negara lain untuk mengusir pulang diplomat.

"Kami perlu memberi tekanan pada Rusia untuk mengambil bagian dalam penyelidikan nyata tentang serangan tersebut," kata Menteri Luar Negeri Belgia Didier Reynders kepada wartawan.

Rusia pada Kamis (15/3) membantah keberadaan program Novichok, gas syaraf tingkat-militer yang dikatakan Inggris dikembangkan oleh Rusia dan telah digunakan di tanah Inggris pada 4 Maret.

Rusia mendesak Inggris agar memberikan bukti nyata dan kenyataan, yang melandasi tuduhannya.


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mata-mata

Sumber : ANTARA/REUTERS

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top