Catatan Perjalanan Tantowi Yahya di Amerika Serikat

Demo-demo seperti yang terjadi di AS ini tidak terjadi ketika ketika Jokowi-JK diumumkan sebagai pemenang. Tidak pula terjadi ketika keduanya dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI di Gedung MPR.
Tantowi Yahya
Tantowi Yahya - Bisnis.com 24 November 2016  |  00:00 WIB
Catatan Perjalanan Tantowi Yahya di Amerika Serikat
Tantowi Yahya berdiskusi dengan lobbyist group. - Istimewa

Bisnis.com, WASHINGTON - Tantowi Yahya, anggota Komisi I DPR dari Partai Golkar, saat ini tengah berada di Amerika Serikat dan melakukan pengamatan dari dekat pasca kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton pada pilpres 9 November.

Tantowi --atau Tanto, panggilan akrabnya-- sebelum menjadi politisi dikenal sebagai pembawa acara, host beberapa acara top di televisi dan juga ikon musik country di Indonesia.

Berikut catatan perjalanan Tantowi Yahya di Negeri Paman Sam:

Saat ini saya sedang berada di Amerika Serikat,  saat di mana negara tersebut baru saja menyelenggarakan Pemilihan Presiden. Momen ini saya anggap tepat dalam rangka merasakan suasana kebatinan di tengah rakyat AS yang sedang terbelah.

Saya berkunjung ke Nashville, Tennessee dan Washington DC, dua kota yang mewakili geografis politik di Amerika yakni Red dan Blue States. Ternyata auranya memang berbeda. Nashville ceria (red), Washington muram (blue).

Di Nashville saya berinteraksi dengan masyarakat biasa, pekerja kelas menengah dan kelompok profesional. Terlihat aura optimisme diantara kelompok-kelompok masyarakat tersebut dalam menyongsong masa depan yg mereka yakini akan lebih cerah ketika AS dipimpin oleh Donald Trump.

Sementara di Washington di mana saya bertemu dan berdiskusi dengan 8 lobbyist group, think tank dan konsultan politik ternama yang terjadi adalah sebaliknya.

Suasana kekecewaan masih terasa. Mereka terperangkap dalam pesimisme kolektif. Rakyat Amerika yang selama ini memang terbelah menjadi benar-benar terbelah dua, suasana yang dulu kita alami pasca Pilpres 2014.

Saya yang tadinya prihatin dengan sikap bangsa kita yang saya anggap belum dewasa dalam menerima dan menyikapi hasil Pilpres, sekarang berbalik lega. Kejadian seperti itu ternyata terjadi juga di Amerika, negara yang selama ini kita anggap sebagai kampiun demokrasi.

Dan melihat sikap pendukung Hillary yang sulit untuk move on, keterbelahan ini saya prediksi akan berlangsung lama.

Pelantikan Trump-Pence sebagai Presiden dan Wkl Presiden AS tgl 20 Januari 2017 akan dijaga ketat menganstipasi kemungkinan gangguan yang akan muncul.  Rencananya 2 juta pendukung Clinton akan berdemo di depan Gedung Putih pas pelantikan tersebut.

Namun karena tidak adanya izin, demo akbar tersebut  akan dilangsungkan sehari setelahnya. Kita patut bangga karena ternyata kita lebih dewasa dalam berdemokrasi.

Demo-demo seperti yang terjadi di AS ini tidak terjadi ketika ketika Jokowi-JK diumumkan sebagai pemenang. Tidak pula terjadi ketika keduanya dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI di Gedung MPR.

***

Tidak satupun lobbyist, konsultan dan pengamat politik di Amerika yang bisa memperkirakan arah kebijakan politik luar negeri Amerika sampai dengan terbentuknya kabinet. Trump yang bangga menyebut dirinya sebagai Mr. Unpredictable semakin menyulitkan para pengamat utk memprediksi.

Namun demikian, hampir semua lobbyist meyakini tidak semua janji politik Trump selama masa kampanye akan betul-betul dia laksanakan. Ketika menempati Ruang Oval di Gedung Putih, Trump akan berhadapan dengan sistem politik yg terdiri dari berbagai cabang kekuasaan.

Meski Partai Republik memenangi kursi di Kongres, persetujuan kebijakan tidaklah semudah yang diperkirakan mengingat tipisnya perbedaan kursi Republik dan Demokrat di Senat.

China, Jepang dan Korsel adalah negara-negara yang akan terkena dampak langsung kebijakan polugri Amerika. Trump akan mengenakan pajak 40% thdp produk-produk China yang akan membuat berbagai barang buatan Cina tidak akan murah lagi.

Trump berkali-kali menyampaikan kebijakannya yang tidak akan lagi menjadikan AS sebagai polisi dunia. Jepang dan Korsel harus siap-siap menjaga keamanannya wilayahnya sendiri.

Pengamanan seperti saat ini hanya akan dilanjutkan apabila ada kesesuaian kompensasi dari kedua negara tersebut. Mengingat gentingnya posisi negaranya terhadap Amerika, minggu lalu PM Shinzo Abe berkunjung ke Trump di New York.

Menurut rencana dalam waktu dekat ini, sebelum pelantikan, Presiden Cina Xin Jin Ping dan PM Inggris Teresa May akan menemui Trump di Amerika.

Amerika di bawah Trump diprediksi akan sangat pragmatis dan berorientasi pada keuntungan. Trump sebagai Presiden dengan latar belakang pengusaha diyakini akan memimpin Gedung Putih dengan berorientasi pada hasil.

Orang-orang yang menurutnya terbaik akan direkrut di kabinet meski mereka sempat menjadi musuh. Mitt Romney salah satunya yang saat ini tercatat sebagai kandidat serius Menlu.

Semua lobbyist dan pengamat politik berpendapat sama, Asean belum menjadi faktor di mata Amerika. Namun tidak demikian dengan kita. Indonesia dianggap sangat strategis dan diprediksi akan memainkan peran penting di kawasan.

Status Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang telah berhasil memadukan Islam dengan demokrasi dan satu-satunya negara Asean yang ada di G 20 akan membuat Trump mau tidak mau menoleh Indonesia.

Akankah kita memanfaaatkan peluang ini? kita tunggu langkah Pemerintah dalam waktu dekat. Akankah Presiden Jokowi melakukan kontak khusus ke Trump sblm pelantikan? atau melakukan kunjungan sebagaimana yang dilakukan oleh PM Abe, Presiden Xi Jin Ping dan PM Inggris Teresa May? layak kita tunggu dan cermati.

 

*Tantowi Yahya adalah Anggota Komisi I DPR, kelahiran  Indralaya, Sumatra Selatan, 29 Oktober 1960, dari  Partai Golkar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tantowi yahya, Donald Trump

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top