Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indikator Keberhasilan Puasa Seseorang Terlihat dari Bahasanya

Seseorang yang puasanya berhasil terlihat dari bahasanya yang selalu positif, terukur dari hasil olah jiwa dan pikiran yang baik.
Nurudin Abdullah
Nurudin Abdullah - Bisnis.com 22 Juni 2016  |  20:45 WIB
Indikator Keberhasilan Puasa Seseorang Terlihat dari Bahasanya
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Indikator keberhasilan puasa seseroang terlihat dari bahasanya yang selalu positif, terukur dari hasil olah jiwa dan pikiran yang baik.

Sukron Kamil, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan bahasa yang baik merupakan salah satu indikator seseorang yang puasanya berhasil.

“Artinya untuk memunculkan bahasa yang baik, hal pertama yang dibenahi adalah pikiran. Jadi, kalau mau mereformasi diri, maka yang harus dibenahi adalah pikiran dan dilanjutkan dengan bahasa,” katanya, Rabu (22/6/2016)

Menurutnya, dalam teori Noam Chomsky dijelaskan bahwa bahasa itu terkait dengan pemikiran dan bahasa tersebut bisa diubah, karena sebuah fenomena bisa saja digunakan dengan bahasa yang dinamis.

Untuk itu, lanjutnya, pikiran akan melahirkan bahasa dan seseorang dapat dilihat dari pikirannya dan kegelisahan intelektual seseorang juga bisa dilihat dari bahasanya.

Dia menjelaskan fenomena dapat dilihat dari bahasa, dan setiap kejadian akan disikapi manusia tergantung dari pola pikir yang dimilikinya. Apakah dia berpikir positif atau negatif terhadap fenomena tersebut.

“Sebab, badan kita hanya mengikuti apa yang akal dan pikiran perintahkan. Kalau akal mengatakan harus sanggup maka kita akan sanggup meski sebenarnya tidak mau,” ujarnya dalam ceramah Ramadan di masjid Al Jamiah UIN Jakarta.

Kamil mengungkapkan puasa adalah perisai, sehingga seseorang yang melaksanakan puasa tidak akan berkata atau berbahasa kotor (rafats) dan tidak pula bertingkah laku jahil seperti mengejek atau bertengkar.

Dia juga mengutip pernyataan M. Fuad Abdul Baqi dalam kitabnya Alu’lu wal Marjan, bahwa rafats adalah tidak berbuat buruk di dalam omongan dan kata jahil diartikan tidak mengerjakan pekerjaan orang-orang bodoh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Puasa UIN Jakarta
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top