Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mantan Presiden Yaman Meminta Dialog Mengakhiri Perang

Mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh jumat dalam waktu setempat meminta seluruh Yaman untuk kembali berdialog demi mengakhiri konflik. Dialog antara Yaman dan Saudi Arabia tersebut menurutnya mesti dimoderatori oleh PBB.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 25 April 2015  |  13:13 WIB
Para pendukung Houthi mengangkat senjata mereka sambil meneriakkan protes menentang serangan udara dari Pemerintah Arab Saudi di Ibu Kota Yaman, Sanaa, Jumat (10/4/2015) - Reuters
Para pendukung Houthi mengangkat senjata mereka sambil meneriakkan protes menentang serangan udara dari Pemerintah Arab Saudi di Ibu Kota Yaman, Sanaa, Jumat (10/4/2015) - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh jumat dalam waktu setempat meminta seluruh Yaman untuk kembali berdialog demi mengakhiri konflik. Dialog antara Yaman dan Saudi Arabia tersebut menurutnya mesti dimoderatori oleh PBB.

“Saya meminta semua pihak yang berkonflik di setiap provinsi untuk berhenti dan kembali berdialog di semua provinsi,” katanya, Jumat (24/4/2015).

Sekretaris Negara Amerika Serikat John Kerry mengatakan kaum Houthis perlu segera mengakhiri pertempuran, untuk dapat menghentikan serangan udara Saudi dan membuka kemungkinan dialog politik.

“Kita butuh Houthi, dan mereka yang bisa mempengaruhi Houthi, untuk memastikan mereka siap untuk mencoba melakukan seperti yang mereka katakan bahwa mereka akan bernegosiasi,” katanya.

Saleh mengatakan dirinya siap untuk berdamai dengan semua pihak yang melawannya sejak 2011. “Saya akan berdamai dengan semua untuk kepentingan seluruh bangsa,” katanya.

Dia meminta seluruh militan, al Qaeda dan pasukan persenjata pendukung Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi meninggalkan Aden dan menyarahkan kekuasaan pada otoritas militer dan lokal.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Perang Yaman

Sumber : Reuters

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top