Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KPK Akui Tengah Percepat Kasus Suryadharma Ali

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, pihaknya akan segera mempercepat proses penyidikan terhadap perkara dugaan tindak pidana korupsi penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama tahun anggaran 2012-2013.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 20 April 2015  |  21:02 WIB
Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali mengenakan baju tahanan, seusai menjalani pemeriksaan, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/4/2015). - Antara/Hafidz Mubarak A.
Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali mengenakan baju tahanan, seusai menjalani pemeriksaan, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/4/2015). - Antara/Hafidz Mubarak A.

Kabar24.com, JAKARTA-- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, pihaknya akan segera mempercepat proses penyidikan terhadap perkara dugaan tindak pidana korupsi penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama tahun anggaran 2012-2013.

Karena itu menurut Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha, pihaknya sampai saat ini masih terus memanggil banyak saksi untuk tersangka mantan Menteri Agama Suryadharma Ali, guna melengkapi berkas perkaranya.

"Sama sekali rencana untuk memperlambat proses penangangan perkara (korupsi haji Suryadharma Ali)," tutur Priharsa saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (20/4).

Priharsa menjelaskan bahwa tim penyidik KPK, sampai saat ini masih membutuhkan keterangan dari banyak saksi terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi penyelenggaraan ibadah haji yang telah menjerat Suryadharma Ali sebagai tersangka.

"Masih butuh beberapa pemeriksaan untuk melengkapi berkasnya," tukas Priharsa.

SDA telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga terlibat dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi penyelenggaraan ibadah haji pada Kementerian Agama tahun anggaran 2012-2013 pada saat masih menjabat sebagai Menteri Agama.

Dalam perkara tersebut, KPK telah menetapkan ‎mantan Ketua Umum PPP, SDA sebagai tersangka karena diduga telah menyalahgunakan wewenangnya sewaktu masih menjabat sebagai Menteri Agama dengan melakukan perbuatan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri melalui dana ibadah haji yang menelan angka sebesar Rp1 triliun.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah mengeluarkan Laporan Hasil Analisis (LHA) untuk perkara yang telah menjerat SDA.

Dalam LHA, PPATK menemukan adanya sejumlah transaksi mencurigakan yang memperlihatkan bahwa Suryadharma mengajak sedikitnya 33 orang untuk berangkat naik haji pada tahun 2012 lalu.

Selain menelusuri terkait ibadah haji gratis bagi keluarga, kolega, pejabat, dan politisi PPP tersebut, KPK juga berkeyakinan bahwa ada dugaan penggelembungan harga terkait dengan katering, pemondokan, transportasi jemaah haji.

Kemudian, ada juga soal dugaan penyelewengan kuota jemaah haji yang dilakukan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), termasuk soal dugaan kejanggalan dalam pembahasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di Komisi VIII DPR.

Modus penyalahgunaan wewenang yang diduga dilakukan bekas Ketua Umum PPP itu antara lain dengan memanfaatkan dana setoran awal haji milik masyarakat untuk membayari keluarga dan koleganya serta pejabat dan tokoh nasional untuk pergi naik haji.

Selain keluarga SDA, di antara keluarga yang ikut ibadah haji gratis adalah para istri pejabat pada Kementerian Agama.

Atas perbuatan itu, SDA dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana juncto Pasal 65 KUHPidana.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kpk suryadharma ali
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top