Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ketua MPR: Indonesia Harus Revolusi Mental

Ketua MPR Sidarto Danusubroto mengatakan sudah saatnya Indonesia melakukan revolusi mental dalam menghadapi tantangan pasar bebas saat memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 30 April 2014  |  18:59 WIB
Ketua MPR Sidarto Danusubroto - Antara
Ketua MPR Sidarto Danusubroto - Antara
Bisnis.com, JAKARTA - Ketua MPR Sidarto Danusubroto mengatakan sudah saatnya Indonesia melakukan revolusi mental dalam menghadapi tantangan pasar bebas saat memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.

Menurut politisi senior PDIP tersebut, diperlukannya revolusi mental untuk menjawab masalah industri nasional adalah karena Indonesia dahulu pernah unggul di bidang SDM ketimbang negara ASEAN lainnya. Dia mencontohkan banyak dosen-dosen asli Indonesia yang mengajar negara tetangga.

"Dulu kita pernah unggul di SDM. Kita banyak guru di Malaysia, dosen-dosen banyak sekali datang dari ITB, Gajah Mada. Sekarang terbalik, kita banyak belajar ke sana," ujarnya dalam seminar bertema "Roadmap Industri Manufaktur Nasional Menuju Indonesia Berdikari', Rabu (30/4/2014). Acara tersebut diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia yang Berdikari dan Sejahtera (Almisbat).
 
Sidarto mengatakan ASEAN Community 2015 memungkinan derasnya aliran barang dan jasa dari luar negeri, termasuk sumber daya manusia. Menurutnya, banyak negara ASEAN yang lebih siap menghadapi ASEAN Community 2015 ketimbang Indonesia.

"SDM kita masih dibawah Singapura, Brunei, Thailand, Filipina. Dari seluruh negara ASEAN, kita nomor lima. Mungkin kita bisa diserbu lawyer, dokter, ahli ekonomi, yang lebih canggih dari kita kalau tidak segera melakukan revolusi mental," kata Sidarto.
 
Sementara itu, anggota Dewan Nasional Almisbat, Rony Tanusaputra, menyatakan daya saing industri nasional Indonesia sangat lemah karena masih sangat bergantung pada impor. Pada 2013, ujarnya, impor bahan baku ke Indonesia mencapai US$128 miliar.

Meski begitu, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum untuk bangkit sebagai negara industri yang tangguh. Kuncinya adalah kepemimpinan yang bervisi mendorong Indonesia menjadi negara industri manufaktur terkuat, ujarnya.

"Di bawah kepemimpinan Jokowi yang telah mencanangkan jalan kemandirian di bidang ekonomi, Indonesia akan memiliki harapan besar untuk bisa mencapai itu," tegas Rony.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ketua mpr
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top