YOGYAKARTA: Januari 2001, serombongan wartawan baru memulai bekerja di Bisnis Indonesia. Ini adalah rekrutmen serempak pertama kalinya setelah krisis ekonomi 1998 yang memaksa banyak perusahaan berhati-hati dalam berekspansi. Selebihnya, penerimaan dilakukan secara sporadis, satu-satu, atau paling banyak dua orang.
Muhammad Munir Haikal, adalah salah satu calon reporter yang mulai merintis karya bersama sejumlah nama lain seperti Diena Lestari, Gajah Kusumo, Deriz Syarief dan Lutfi Zainudin. Munir, yang bertubuh tinggi besar --pada awalnya sering keliru dipanggil Gajah oleh teman-teman di kantor-- bergabung dalam satu bagian liputan dengan saya di Desk Moneter.
Praktis, kami berdua menjadi tandem dalam liputan, dengan pos nongkrong di Bank Indonesia, Badan Penyehatan Perbankan Nasional, Departemen Keuangan, dan Komisi IX DPR. Munir, kendati bertubuh tambun, sangat lincah bergerak, dengan cepat bergaul dengan komunitas wartawan maupun narasumber berita dari berbagai lapisan.
Secara kebetulan, isu berita di Desk Moneter memang sedang bagus saat itu karena Indonesia baru saja lepas dari krisis moneter. Ratusan triliun rupiah aset perbankan dialihkan ke BPPN, bank-bank jungkir balik menyehatkan diri, dan sedang ramai penanganan aset para konglomerat yang tersangkut kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.
Sebagai media bisnis, jelas ini adalah isu besar bagi Bisnis, di samping dari sisi berita memang bernilai tinggi. dalam carut-marut perekonomian yang sedang sempoyonganlah, karir Munir diasah dan diuji. Lalu, karya-karyanya membawa warna sendiri dan rutin menghiasai headline berita koran ini.
Basis organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) semasa kuliah di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta adalah bekal yang berguna dalam menjalani profesi jurnalisnya di Bisnis. Munir adalah pribadi yang supel dan dengan rasa setia kawan di atas rata-rata. Tak pernah ia berpikir panjang untuk menolong, menjenguk rekan yang sakit atau melayat jika ada teman atau kerabat meninggal.
Munir juga bisa disebut sebagai tipikal jurnalis pantang menuyerah yang lebih memilih menyampaikan berita seketika dibandingkan dengan duduk lama di depan meja untuk membuat analisa fakta. Jadilah berita yang dibawanya adalah informasi segar, didapat dari mana saja; resepsi pernikahan, dalam upacara pemakaman, hingga hasil dari menjalani terapi alternatif dalam 10 bulan terakhir setelah dia di vonis leukemia oleh dokter.
Ya, penyakit leukemia akut ini adalah kabar yang sangat mengejutkan bagi saya, teman-teman kantor, hingga para sahabatnya. Tak ada yang menduga, pada Juli 2011 saat Munir berjalan pincang ke kantor karena persendian di area mata kakinya bengkak, adalah awal dari cerita dia memerangi penyakit kanker darah itu.
Munir, seperti biasa bandel. Ratna Ariyanti, rekan kerjanya yang setia menunggu di Rumah Sakit MRCC Siloam Jakarta hingga saat-saat terakhir hidupnya merasa kehabisan cara meminta agar Munir istirahat. Pernah pula Munir bercerita, suatu hari saat mengendarai motor hampir kena tilang, tetapi polisi melepasnya karena melihat kakinya yang bengkak.
Bengkak di kaki tersebut kemudian sempat kempes dan Munir kembali beraktifitas. Bahkan, oleh kantor dia sempat dikirim liputan ke Australia pada 17-22 Oktober 2011. Munir ikut rombongan PT Toyota Astra Motor ke Melbourne.
Di sana Munir bertemu jurnalis asal Indonesia Soraya Permatasari, yang sekarang bekerja di Bloomberg Australia. Menurut penuturan Aya, pada 2 hari terakhir kunjungan Munir jarang ikut kegiatan dan terlihat agak kurusan. “Namun, dia masih sempat beliin saya oleh-oleh saat berkunjung ke perkebunan anggur Yarra Valley. Munir kalau sedang liputan selalu menyempatkan ketemu, saat saya masih di Kuala Lumpur juga ketemu,” tuturnya Selasa malam (4/9).
Sesampai di Jakarta, jurnalis dengan kode penulisan MMH tersebut menjalani perawatan di RS Medistra, Jakarta Selatan. Lalu pada 4 November dokter mengabarkan soal leukemia akut. “Elek [buruk], tapi aku akan fight,” kata Munir soal penyakitnya.
Praktis sejak saat itu, Munir keluar masuk rumah sakit. Selain di Medistra, dia sempat juga masuk RS MMC Kuningan, hingga secara rutin di MRCCC. Beberapa kali, dia juga pergi ke Singapura untuk mendapatkan pendapat kedua dari dokter pada November 2011 dan Januari 2011.
Ayah dari Muthia (8) dan Khansa (5) ini memang benar-benar menunjukkan daya juang yang luar biasa. Nurul Qomariyah, mantan wartawan situs online Detik.com punya kesan mendalam pada sahabatnya tersebut.
“Munir sama temannya disebut bonek… Kok bonek? ya gitu deh… udah tahu leukemia akut, drop, tapi masih tetap kerja, pengobatan prana, ngurus rumah sakit, sampe ke Rumah Sakit Darmais sendiri naik busway,” tuturnya pada 18 November 2011 dalam http://nasikerang.blogdetik.com/, blog khusus yang dibuat oleh sejumlah sahabat liputannya saat di BPPN.
Namun, seperti tak merasa sakit, Munir masih saja mengirim berita untuk Bisnis melalui email. Bahkan, saat kembali masuk MRCC Jumat pekan lalu, dia masih sempat menulis soal Bank Mutiara, hasil ‘wawancaranya’ saat dijenguk Maryono, Direktur Utama Bank tersebut.
Kemarin, tepat 10 bulan setelah vonis kanker itu datang, Tuhan memanggil Munir. Dia pergi dalam damai, meninggalkan begitu banyak orang yang begitu menyayanginya. Selamat jalan sahabat. (sut)