Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Surat Terbuka untuk Pratikno dan Ari Dwipayana, Mahasiswa UGM: Kembalilah ke Demokrasi

Pratikno dan Ari Dwipayana merupakan para pengajar atau akademisi di UGM yang saat ini tengah mengisi posisi di pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo.
Mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan membacakan surat terbuka kepada Pratikno dan Ari Dwipayana di Yogyakarta, Minggu (11/4/2024)./Dok.-Istimewa
Mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan membacakan surat terbuka kepada Pratikno dan Ari Dwipayana di Yogyakarta, Minggu (11/4/2024)./Dok.-Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Gadjah Mada (UGM) lintas angkatan menuliskan surat terbuka kepada Pratikno dan Ari Dwipayana.

Dua sosok tersebut merupakan para pengajar atau akademisi di UGM yang saat ini tengah mengisi posisi di pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Pratikno saat ini menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara, sedangkan Ari Dwipayana mengemban tugas sebagai Koordinator Staf Khusus Presiden.

Dalam surat terbuka yang ditulis di Yogyakarta, Minggu (11/4/2024), mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan pertama-tama mengungkit ceramah Pratikno yang akrab disapa Pak Tik dan Ari Dwipayana yang karib disebut Mas Ari dalam kelas mengenai demokrasi. 

Dalam kelas tersebut, para mahasiswa diyakinkan bahwa demokrasi merupakan sebuah berkah yang harus dijaga keberlangsungannya. 

Pasalnya, Indonesia telah bertransformasi dari salah satu simbol otoritarianisme terbesar di dunia, yang ditandai dengan kehadiran orde baru, menjadi salah satu negara demokrasi paling dinamis di Asia, terkhusus pada era reformasi. 

“Transisi ini ditandai oleh beberapa hal, mulai dari penarikan angkatan bersenjata dari politik, liberalisasi sistem kepartaian, pemilu yang jurdil, kebebasan berbicara, kebebasan pers, serta hal-hal lainnya,” demikian tertulis dalam surat terbuka itu.

Namun, mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan menyayangkan bahwa saat ini atau lebih dari 20 tahun sejak datangnya berkah tersebut, demokrasi Indonesia justru mengalami kemunduran. 

Berkaca dari situasi perpolitikan Indonesia saat ini, mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan merasa semakin resah. Keresahan itu diklaim serupa dengan Kekhawatiran Ari pada harga tinggi demokrasi atau kekalutan hati Pak Tik pada otoritarianisme Orde Baru yang terungkap dalam beberapa tulisannya di masa lalu. 

Alasannya, mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan sejak 2019 telah turun ke jalan untuk memprotes banyak hal yang mengancam demokrasi, termasuk revisi Undang-Undang (UU) KPK, UU Ciptakerja, dan revisi UU ITE.

Bahkan, saat ini atau di tengah perhelatan Pemilu 2024, mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan menilai demokrasi sedang menuju ambang kematiannya. Sebab, rakyat disuguhi serangkaian tindakan pengangkangan etik dan penghancuran pagar-pagar demokrasi yang dilakukan oleh kekuasaan, serta konstitusi dibajak untuk melegalkan kepentingan pribadi dan golongannya

“Melihat ini semua, rasanya demokrasi Indonesia bukan hanya sekedar mundur ataupun cacat, tetapi sedang sekarat,” demikian pernyataan mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan.


MENYADARKAN KEKUASAAN

Melihat kondisi itu, mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan mengingatkan Pak Tik dan Mas Ari untuk menyadarkan kekuasaan atas kondisi tersebut. Apalagi, kedua guru tersebut kini berada dekat dengan lingkaran kekuasaan.

“Jika pada akhirnya demokrasi kita, demokrasi milik rakyat Indonesia ini, mati, maka sejarah akan mengingat siapa saja pembunuhnya. Untuk itu, menjadi keharusan bagi seluruh pihak untuk menyadarkan kekuasaan atas perbuatannya.”

Mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan menilai pemerintahan saat ini sungguh jelas berada dalam upaya melanggengkan kekuasaan. Kendati terbilang tidak anti-intelektual, pemerintah mendegradasi intelektualisme.

Sayangnya, sebut mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan, upaya pemerintah itu justru disokong oleh banyak intelektual yang dinilai hanya menjadi instrumen ‘stempel’ dan pihak justifikasi kebijakan penguasa.

“Ini bukan kesalahan Pak Tik dan Mas Ari semata. Namun, biar bagaimanapun kami menyadari, dua guru kami telah menjadi bagian dari persoalan bangsa,” tegas mereka. 

Untuk itu, mahasiswa DPP Fisipol UGM lintas angkatan mengingatkan Pratikno dan Ari untuk kembali menggemakan kata dan laku yang menguatkan demokrasi.

“Bagi kami, Pak Tik dan Mas Ari adalah guru, rekan, sahabat, kerabat, dan bapak. Hari ini kami berseru bersama: kembalilah pulang. Kembalilah membersamai yang tertinggal, yang tertindas, yang tersingkirkan. Kembalilah ke demokrasi; dan kembalilah mengajarkannya kepada kami, dengan kata dan perbuatan.”


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper