Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Starbucks Masih "Denial" saat Kerugian Terus Terjadi di Depan Mata

Starbucks dinilai terus mengalami kerugian karena imbas boikot dari masyarakat pro-Palestina.
Gerai Starbucks di Terminal Tom Bradley, Bandara LAX Los Angeles, AS./Reuters
Gerai Starbucks di Terminal Tom Bradley, Bandara LAX Los Angeles, AS./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Starbucks yang membantah mengalami kerugian akibat aksi boikot yang diserukan oleh orang-orang, ternyata harus membuka mata.

Meski pihaknya tak mau mengakui boikot berhasil. Namun hasil di lapangan menunjukkan bahwa mereka telah mengalami kerugian secara pasti.

Melansir Vox, kerugian Starbucks hingga menunjukkan penurunan penjualan ini pun menjadi yang paling bersejarah.

Menjelang akhir tahun, nilai Starbucks diproyeksikan hilang US$11 milar atau setara dengan Rp172 triliun.

Penurunan nilai ini disebut-sebut sebagai imbas boikot, di mana nilai sahamnya menurun drastis sejak pertengan November.

“Saham Starbucks mengalami penurunan beruntun dalam sejarah, dipengaruhi oleh berbagai faktor,” kata Siye Desta, analis ekuitas di CFRA Research, melalui email, dikutip dari Vox, Kamis (14/12/2023).

Penurunan ini dibantah sebagai imbas boikot dan lebih mengarah ke pengaruh serikat kerja saja. Padahal masalah tersebut juga masih berkaitan dengan Palestina.

Kini, serikat tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menuntut Starbucks untuk membuka kembali 23 gerai yang tutup pada tahun lalu karena menghalangi demo serikat pekerja.

Kerugian terus terjadi

Melansir dari Newarab, seorang karyawan Starbucks Mesir yang tak disebutkan namanya melaporkan kepada The New Arab bahwa "perusahaan sudah menginfokan beberapa karyawan bahwa mereka akan dipecat karena penjualan yang turun signifikan akibat boikot yang sedang berlangsung".

Namun pihaknya tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai kerugian finansial, atau berapa banyak staf yang telah dirumahkan.

"Saat ini, perusahaan memangkas pengeluaran... dan memaksa pekerja yang tersisa untuk kerja lebih keras daripada yang seharusnya untuk mengkompensasi kekurangan staf," katanya kepada The New Arab, dikutip Jumat (15/12/2023).

Seperti yang diketahui pada awal November, Starbucks mengalami penurunan penjualan di Mesir karena orang-orang mulai melakukan boikot.

Di media sosial pun viral bahwa Starbucks Mesir mulai memberikan diskon besar hingga 80% karena sepinya penjualan.

Produk yang harga normalnya 93 pound Mesir atau livre égyptienne (LE), ditawarkan menjadi hanya 20 pound Mesir.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper