Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Oposisi Tuding Kekuatan Politik Erdogan Perlambat Penanganan Gempa Turki

Oposisi menuding akumulasi kekuatan politik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghambat upaya penyelamatan korban gempa bumi.
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Turki dapat mempertimbangkan Finlandia untuk masuk keanggotaan NATO dibanding Swedia. /Bloomberg
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Turki dapat mempertimbangkan Finlandia untuk masuk keanggotaan NATO dibanding Swedia. /Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Oposisi menuding akumulasi kekuatan politik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghambat upaya penyelamatan korban gempa bumi. Hal ini memperpanjang kritik terhadap penanganan krisis oleh pemerintahan Erdogan.

“Sistem yang mengerikan ini telah menciptakan struktur yang sangat rumit,” kata pemimpin Partai Iyi Meral Aksener perihal presiden eksekutif yang diadopsi melalui referendum pada 2018, yang memusatkan kekuasaan di tangan presiden.

“Ada keadaan kelalaian yang mengerikan yang dipicu oleh rasa takut. Tidak ada yang bertanggung jawab, tidak ada yang mengambil inisiatif,” katanya saat berkunjung ke Provinsi Adana yang dilanda gempa.

Dia menambahkan, bahwa para pejabat takut untuk bertindak tanpa persetujuan presiden.

Komentar tersebut menambah komentar yang lebih kritis dari Aksener merespons bencana tersebut.

Dia awalnya memutuskan hubungan dengan pemimpin oposisi utama Kemal Kilicdaroglu.

Partai mereka adalah dua dari enam partai yang berencana mengajukan kandidat bersama untuk menantang pemerintahan 20 tahun Erdogan dalam pemilihan tahun ini, dan berjanji memperkuat parlemen dengan mengorbankan kursi kepresidenan.

Erdogan telah mengakui keterlambatan dalam tanggapan awal terhadap gempa tersebut, tetapi mengatakan pemerintah telah mengerahkan semua kemampuan negara untuk membantu para korban selamat.

Gempa bumi telah menewaskan lebih dari 38.000 orang sejauh ini di Turki, menurut jumlah korban terbaru oleh Badan Tanggap Bencana Turki, AFAD, dan ribuan lainnya di negara tetangga Suriah.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nancy Junita
Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper