Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sebanyak 43 Pelajar Hilang, Mantan Jaksa Agung Meksiko Ditangkap

Meksiko menangkap mantan Jaksa Agung Jesus Murillo Karam, yang memimpin penyelidikan kontroversial atas hilangnya 43 pelajar.
Surya Dua Artha Simanjuntak
Surya Dua Artha Simanjuntak - Bisnis.com 20 Agustus 2022  |  14:00 WIB
Sebanyak 43 Pelajar Hilang, Mantan Jaksa Agung Meksiko Ditangkap
Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pihak Meksiko menangkap mantan Jaksa Agung Jesus Murillo Karam, yang memimpin penyelidikan kontroversial atas hilangnya 43 pelajar pada tahun 2014, Jumat (19/8/2022).

Penyelidikan yang dilakukan Karam sempat menarik perhatian dunia internasional karena merupakan salah satu tragedi hak asasi manusia (HAM) terburuk di Meksiko.

Menurut laporan channelnewsasia.com, Sabtu (20/8/2022), selama ini Karam dianggap sebagai arsitek dari laporan hilangnya 43 pelajar versi pemerintahan Enrique Pena Nieto. Laporan tersebut ditolak oleh banyak pihak, termasuk para keluarga korban.

Kantor Jaksa Agung Meksiko mengatakan, bahwa Karam ditangkap atas tuduhan penghilangan paksa, penyiksaan, dan penyelewengan keadilan.

Sebagai informasi, pada tahun 2014, sebanyak 43 pelajar hilang saat melakukan perjalanan dengan bus ke Mexico City. Saat itu, mereka ingin mengikuti demonstrasi di kota tersebut.

Dari hasil penyelidikan, dilaporkan bahwa ke-43 pelajar ditahan oleh aparat kepolisian dan kemudian diserahkan ke kartel narkoba.

Apa yang sebenarnya terjadi terhadap pelajar itu masih dalam perdebatan hangat.

Meski begitu, dalam laporan versi pemerintah Enrique Pena Nieto pada tahun 2015, anggota kartel membunuh para pelajar dan membakar jenazah mereka di tempat pembuangan sampah.

Kesimpulan itu ditolak oleh para ahli independen dan kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, serta para keluarga korban.

Kejahatan Negara

Pada Kamis (18/8/2022), sebuah komisi yang menyelidiki kembali kasus tersebut mencap kasus hilangnya 43 pelajar sebagai "kejahatan negara" karena melibatkan berbagai institusi negara.

Dalam laporannya, dikatakan bahwa personel militer bertanggung jawab atas kasus tersebut, karena terlibat secara langsung atau karena kelalaian.

"Tindakan, kelalaian, atau partisipasi mereka [militer] memungkinkan penghilangan dan eksekusi para pelajar, serta pembunuhan enam orang lainnya," kata ketua komisi, yang juga Wakil Menteri dalam Negeri Alejandro Encinas.

Di sisi lain, laporan pemerintah pada tahun 2015 menyenyampingkan keikursertaan pihak militer dalam penghilangan 43 pelajar.

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador menegaskan, bahwa setiap tentara dan pejabat yang terlibat dalam penghilangan tersebut harus diadili.

Dia mengatakan akan menyampaikan kebenaran, meski seburuk apapun.

"Menyampaikan situasi yang mengerikan dan tidak manusiawi ini, dan pada saat yang sama menghukum mereka yang bertanggung jawab, membantu mencegah peristiwa menyedihkan seperti ini terjadi lagi," jelas Lopez Obrador.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

meksiko hak asasi manusia PBB
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top