Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Darurat Pangan, Angka Kelaparan Asia Merangkak Naik

Kelaparan menyebar lagi di seluruh Asia akibat perang dan pandemi telah membalikkan kemajuan selama bertahun-tahun di mana akses ke pangan secara umum telah membaik.
Ilustrasi kelaparan/Istimewa
Ilustrasi kelaparan/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Penelitian PBB mengungkapkan bahwa lebih dari 1,1 miliar orang tidak memiliki akses ke makanan yang memadai di Asia tahun lalu karena pandemi, perang, dan perubahan iklim memicu peningkatan krisis di wilayah terpadat di dunia.

Laporan State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) PBB menggambarkan dampak luas dari tekanan pada pasokan pertanian, dan mengungkapkan risiko ketahanan pangan jangka panjang yang mengancam pertumbuhan populasi di kawasan Asia.

Dikutip dari Nikkei Asia, kelaparan menyebar lagi di seluruh Asia karena ancaman simultan dan saling terkait dalam beberapa tahun terakhir telah membalikkan kemajuan selama bertahun-tahun di mana akses ke pangan secara umum telah membaik.

Menurut laporan tersebut, kekurangan gizi yang memburuk adalah bagian dari tren global yang menurut Program Pangan Dunia PBB telah membuat sebagian besar dunia menghadapi darurat pangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun ini.

Lebih dari 424 juta diperkirakan menghadapi kelaparan di Asia pada tahun 2021, menurut laporan SOFI.

"Angka ini naik dari 398,2 juta pada 2020 dan 339,9 juta pada 2019," tulis SOFI.

Sementara kelaparan meningkat, begitu pula prevalensi kerawanan pangan parah yang berarti pada titik tertentu orang kehabisan perbekalan.

PBB mengungkapkan lebih dari 489 juta orang di Asia sangat rawan pangan tahun lalu. Peningkatan mencapai 112,3 juta orang hanya dalam dua tahun.

Harga pangan internasional diperkirakan akan melambung lebih jauh tahun ini, didorong oleh gangguan pasokan lebih lanjut, biaya input pertanian yang lebih tinggi, dan pembatasan kebijakan pada ekspor dan tarif perdagangan.

Pandemi Covid-19, invasi Rusia ke Ukraina, dan perubahan iklim ekstrem telah mendorong harga bahan pokok termasuk minyak sayur dan sereal ke rekor tertinggi, menurut Indeks Harga Pangan tahunan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.

Indeks, yang melacak perubahan bulanan dalam harga internasional sekeranjang komoditas makanan yang umum diperdagangkan, telah naik 23 persen dalam 12 bulan terakhir saja.

Pandemi Covid-19 yang dimulai pada akhir tahun 2019 memicu kenaikan harga karena mengganggu rantai pasok mulai dari penanaman dan panen hingga distribusi.

Invasi Rusia Februari 2022 ke Ukraina memberikan pukulan tambahan. Seperti diketahui, kedua negara bersama-sama memasok sekitar 30 persen ekspor gandum global dan sekitar seperlima jagung dunia.

Menyusul gelombang panas tiba-tiba yang menghantam hasil panen di India, produsen gandum terbesar kedua di dunia itu telah melarang ekspor setelah mengatakan siap untuk mengisi sebagian dari kesenjangan yang ditinggalkan oleh Ukraina.

Lebih lanjut, harga gula juga meningkat karena pabrik tebu Brasil mengalihkan produksi ke etanol untuk menguangkan harga energi yang tinggi.

Ini terjadi menyusul rekor kekeringan yang memperpendek musim panen di Brasil, pengekspor gula terbesar di dunia.

Harga unggas pun naik karena terganggunya ekspor dari Ukraina, meningkatnya wabah flu burung di belahan bumi utara, dan yang terbaru, pembatasan ekspor ayam oleh Malaysia.

Adapun, harga susu juga meningkat, dengan rekor tertinggi untuk mentega dikaitkan dengan penurunan ternak sapi, kekurangan tenaga kerja, biaya bahan kemasan yang lebih tinggi dan kekurangan minyak goreng.

Nomura Holdings pun berpandangan beras bisa menjadi komoditas selanjutnya yang akan meningkat tajam jika negara-negara yang bergantung pada gandum mulai beralih ke alternatif yang lebih murah.

Direktur Divisi Statistik FAO Jose Rosero Moncayo mengatakan Indeks Harga Pangan masih 22,8 persen di atas nilainya pada bulan yang sama tahun lalu.

Di Asia, pada dasarnya, konsumen belum melihat yang kondisi terburuk. Namun, patut diingat, wilayah ini adalah rumah bagi lebih dari 320 juta orang yang hidup dalam “kemiskinan ekstrem” (kelompok dengan penghasilan kurang dari US$1,90 per hari), menurut Bank Dunia.

Dengan populasi 4,6 miliar orang, Asia sudah menjadi benua terpadat dengan margin besar dan diperkirakan akan tumbuh 700 juta dalam tiga dekade mendatang.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hadijah Alaydrus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper