Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Invasi Ukraina, AS Jatuhkan Sanksi Terbaru untuk Rusia

Joe Biden mengumumkan paket sanksi baru terhadap Rusia setelah menyebut pengakuan Moskow atas dua wilayah yang memisahkan diri di Ukraina timur sebagai awal dari invasi Rusia terhadap  negara tetangganya.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  07:30 WIB
Presiden AS Joe Biden di Washington, AS, September 2021. - Antara/Reuters
Presiden AS Joe Biden di Washington, AS, September 2021. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan paket sanksi baru terhadap Rusia setelah menyebut pengakuan Moskow atas dua wilayah yang memisahkan diri di Ukraina timur sebagai awal dari invasi Rusia terhadap  negara tetangganya.

Dalam pidato singkat kemarin, Biden mengutuk keputusan mitranya dari Rusia Vladimir Putin yang mengakui kemerdekaan Luhansk dan Donetsk dan mengizinkan pengerahan pasukan Rusia untuk “menjaga perdamaian” di wilayah tersebut.

Sanksi AS menargetkan utang negara Rusia dan dua lembaga keuangan besar, karena Rusia melangkah lebih jauh dengan invasi, maka kami siap untuk melangkah lebih jauh dengan sanksi, kata Biden.

“Siapa dalam nama Tuhan yang menurut Putin memberinya hak untuk mendeklarasikan apa yang disebut negara baru di wilayah yang menjadi milik tetangganya,” ujar Biden mempertanyakan.

Dia menyebut langkah Putin merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan menuntut tanggapan tegas dari komunitas internasional.

Sanksi tersebut menargetkan utang negara Rusia serta dua lembaga keuangan besar Rusia, termasuk bank militer negara itu, kata Biden.

“Dengan sanksi itu berarti kami telah memutuskan pemerintah Rusia dari pembiayaan dari negara Barat. Rusia tidak dapat lagi mengumpulkan uang dari Barat dan tidak dapat mengajukan utang barunya di pasar kita atau pasar Eropa juga,” tambah presiden AS seperti dikutip BBC.com, Rabu (23/2/2022).

Pada hari Senin (20/2/2022), Putin mengakui Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhansk (LPR) yang memproklamirkan diri. Kedua daerah memgalami pertempuran antara separatis yang didukung Moskow dan pemerintah Ukraina sejak 2014.

Moskow kemudian menandatangani perjanjian dengan wilayah yang memungkinkannya untuk membangun kehadiran militer di Ukraina timur.

Pemerintahan Biden awalnya menanggapi dengan sanksi yang menargetkan perdagangan di dua wilayah secara khusus, tetapi tindakan pada hari Selasa berlaku untuk Rusia sendiri.

“Kami juga akan menjatuhkan sanksi pada elit Rusia dan anggota keluarga mereka. Mereka berbagi keuntungan korup dari kebijakan Kremlin dan harus berbagi rasa sakit juga,” kata Biden.

“Ini adalah awal dari invasi Rusia ke Ukraina, seperti yang dia [Putin] tunjukkan dan telah minta izin untuk dapat melakukannya dari parlemen.”

Pejabat AS dan Eropa mengatakan dalam beberapa pekan terakhir bahwa mereka yakin Rusia telah merencanakan serangan besar-besaran ke Ukraina.

“Setiap indikasi menunjukkan bahwa Rusia terus merencanakan serangan skala penuh ke Ukraina,” kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg kemarin.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia ukraina Joe Biden
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top