Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awas, Hujan Es dan Puting Beliung Masih Berpotensi Terjadi Maret hingga April 2022

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem tersebut serta dampaknya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, jalan licin, pohon tumbang, dan lainnya.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  07:35 WIB
Puting beliung menyerupai corong terjadi di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021). JIBI - Bisnis/Nancy Junita @satimsay
Puting beliung menyerupai corong terjadi di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021). JIBI - Bisnis/Nancy Junita @satimsay

Bisnis.com, JAKARTA - BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada adanya cuaca ekstrem di tanah air.

Potensi cuaca ekstrem berupa puting beliung, hujan es, serta hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang, masih dapat terjadi hingga Maret-April mendatang.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem tersebut serta dampaknya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, jalan licin, pohon tumbang, dan lainnya.

Menurut BMKG, beberapa hari ini dilaporkan terjadi berbagai fenomena cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari hujan lebat disertai angin kencang, hujan es, hingga berdampak banjir dan longsor.

Menurut BMKG, Februari adalah puncak musim hujan untuk sebagian besar wilayah Indonesia.

Sebelumnya, BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem di banyak wilayah di Indonesia hingga 23 Februari 2022. Seluruhnya ada 30 wilayah provinsi yang mendapat peringatan potensi hujan sedang-lebat yang disertai petir dan angin kencang sepanjang periode itu.

Penyebabnya masih berupa aktifnya dinamika atmoster Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini disebutkan sudah berada pada fase 3 di sekitar Samudera Hindia. "Menunjukkan kontribusi cukup signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia," kata Guswanto.

Kondisi tersebut juga diperkuat dengan fenomena gelombang atmosfer yaitu gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial yang cukup aktif di beberapa wilayah, pola tekanan tekanan rendah yang memicu terbentuknya pumpunan dan belokan angin, dan pengaruh labilitas udara dalam skala lokal.

View this post on Instagram

A post shared by BMKG (@infobmkg)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BMKG Hujan Es
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top