Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Setelah Mundur, Muhyiddin Ditunjuk Raja sebagai Perdana Menteri Sementara Malaysia

Pengunduran diri perdana menteri itu terjadi di tengah permainan kekuatan politik yang sedang bersaing di Malaysia.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 16 Agustus 2021  |  14:56 WIB
Setelah Mundur, Muhyiddin Ditunjuk Raja sebagai Perdana Menteri Sementara Malaysia
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin (kiri) melambaikan tangan sebelum berangkat untuk upacara pelantikan di Istana Nasional di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (1/3/2020). Muhyiddin diangkat sebagai perdana menteri pada 29 Februari oleh raja negara itu untuk mengakhiri pergolakan enam hari perebutan kekuasaan setelah Mahathir Mohamad tiba-tiba mengundurkan diri pada hari Senin karena pertengkaran dalam koalisinya yang dulu. Bloomberg - Samsul Said
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin akhirnya ditunjuk sebagai perdana menteri sementara Malaysia setelah pengunduran dirinya diterima oleh raja pada siang ini.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Istana Negara dikatakan bahwa raja telah menerima surat pengunduran diri dari Muhyiddin dan seluruh Kabinet yang berlaku mulai hari ini, Senin (16/8/2021).

"Setelah pengunduran dirinya, Yang Mulia telah setuju bahwa Yang Terhormat Tan Sri Mahiaddin bin Md Yasin akan menjabat sebagai perdana menteri sementara sampai perdana menteri baru ditunjuk," menurut keterangan Istana seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Senin (16/8/2021).

Sebelumnya, Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Khairy Jamaluddin menulis di Instagram: "Kabinet telah mengajukan pengunduran diri kami kepada Agong. Terima kasih atas kesempatan untuk, sekali lagi, mengabdi pada bangsa. Semoga Tuhan memberkati Malaysia."

Sedangkan, Menteri Senior Hishammuddin Hussein menyatkan dalam akun Twitter: "Merupakan suatu kehormatan dan hak istimewa untuk melayani negara kita tercinta dan rakyatnya."

Pada Senin (16/8/2021) pagi, Muhyiddin memimpin rapat Kabinet, sebelum melanjutkan audiensi kerajaan dengan Raja Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah.

Pengunduran diri perdana menteri itu terjadi di tengah permainan kekuatan politik yang sedang bersaing di Malaysia.

Awal bulan ini, sejumlah anggota parlemen Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yang dipimpin oleh presiden partai Ahmad Zahid Hamidi, menarik dukungan mereka untuk Muhyiddin. Akibatnya, Muhyiddin kehilangan mayoritas di parlemen.

Perdana menteri awalnya bersikeras bahwa dia masih memimpin mayoritas parlemen dan berjanji untuk membuktikan legitimasinya melalui sebuah mosi yang dijadwalkan akan diajukan di parlemen pada 7 September.

Jumat lalu, Muhyiddin muncul dalam pidato yang disiarkan televisi untuk mencari dukungan bipartisan untuk bertahan dari mosi tersebut.

Namun, usulannya ditolak oleh Pakatan Harapan (PH), yang mengatakan bahwa hal itu pada dasarnya adalah pengakuan terbuka bahwa dia telah kehilangan dukungan dari mayoritas Majelis Rendah. Sedangkan, blok oposisi memintanya untuk mundur.

UMNO juga mengatakan tidak akan mempertimbangkan tawaran dari "seseorang yang tidak lagi memiliki legitimasi". Karena itu dia menyebut tawaran itu sebagai "penyuapan terbuka".

Muhyiddin adalah presiden Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) yang memimpin pemerintahan Perikatan Nasional.

Dia dilantik sebagai perdana menteri kedelapan negara itu pada 1 Maret 2020 setelah terjadi perebutan kekuasaan yang membuatnya menarik Bersatu keluar dari koalisi PH yang berkuasa saat itu.

Selama 17 bulan masa jabatannya sebagai perdana menteri, Muhyiddin dikritik oleh beberapa pihak karena gagal memimpin pemerintah Malaysia secara efektif dalam menangani pandemi Covid-19.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia perdana menteri
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top