Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah Insiden Belarusia, Rusia Larang Maskapai Eropa Mendarat di Moskow

Otoritas penerbangan Rusia memaksa Austrian Airlines untuk membatalkan penerbangannya dari Wina ke ibu kota Rusia. Air France juga membatalkan penerbangan Paris-Moskow.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 28 Mei 2021  |  09:59 WIB
Pesawat Airbus A320-200 milik Uzbekistan Airways lepas landas di Bandara Minsk di Belarusia pada 19 April 2018./Reuters - Airways
Pesawat Airbus A320-200 milik Uzbekistan Airways lepas landas di Bandara Minsk di Belarusia pada 19 April 2018./Reuters - Airways

Bisnis.com, JAKARTA - Rusia membalas tindakan Uni Eropa yang melarang maskapai penerbangan Belarusia memasuki wilayahnya dengan menolak memberikan izin kepada pesawat-pedawat Eropa terbang ke Moskow.

Dalam sebuah tindakan nyata oleh Kremlin, otoritas penerbangan Rusia memaksa Austrian Airlines untuk membatalkan penerbangannya dari Wina ke ibu kota Rusia. Air France juga membatalkan penerbangan Paris-Moskow untuk hari kedua berturut-turut setelah izin mendarat di Rusia pada Rabu ditolak.

Kedua operator penerbangan telah mendaftarkan rute baru yang melewati wilayah udara Belarusia. Langkah tersebut mengusul "aksi pembajakan" pada Minggu atas sebuah pesawat Ryanair.

Pesawat itu terbang antara Yunani dan Lituania, namun karena ada penangkapan dua penumpang di dalamnya oleh aparat keamanan Belarusia atas jurnalis Raman Pratasevich dan pacarnya dari Rusia yang bernama Sofia Sapega, pesawat itu diperintahkan berbelok dan dipaksa mendarat di bandara Minsk, Belarusia .

Air France dan Austrian Airlines itu hanya mengikuti rekomendasi dari European Union Aviation Safety Agency (EASA). Tidak jelas apakah pembalasan Moskow bersifat sementara atau menandakan kebuntuan yang pada gilirannya dapat mengarah pada tindakan balasan terhadap maskapai nasional Rusia Aeroflot.

Maskapai penerbangan termasuk British Airways dan KLM telah dapat menggunakan rute baru dalam penerbangan ke Moskow.
Sementara itu, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional PBB (ICAO) pada hari Kamis sepakat untuk meluncurkan penyelidikan cepat terhadap keputusan presiden Belarusia Alexander Lukashenko untuk menghentikan dan membelokkan penerbangan Pratasevich.

Dewan ICAO yang beranggotakan 36 orang mengadakan "rapat luar biasa" untuk "berbagi dan meninjau informasi terbaru serta membahas" pendaratan paksa pesawat di Minsk, kata seorang juru bicara seperti dikutip TheGuardian.com, Jumat (28/5/2021).

Setelah pertemuan di Montreal, Menteri Transportasi Irlandia, Eamon Ryan, mengatakan: "Tindakan yang tidak dapat diterima ini adalah serangan terhadap keamanan penerbangan Eropa dan membahayakan nyawa penumpang dan awak saat mereka melakukan perjalanan di antara dua ibu kota Uni Eropa."

Pakar hukum itu mengatakan bahwa tindakan pelanggaran Belarusia atas konvensi internasional kemungkinan besar akan memenangkan dukungan mayoritas yang diperlukan jika Lukashenko dan rezimnya yang didukung Moskow tidak mengaku bersalah.

Elmar Giemulla, seorang pengacara penerbangan yang mewakili empat warga negara Jerman yang tewas dalam jatuhnya penerbangan MH17 di Ukraina, mengatakan dia memahami bahwa pertemuan paripurna dewan ICAO, yang bertemu setiap tiga tahun, akan dimajukan untuk menanggapi hasil dari investigasi itu setelah diperintahkan oleh dewan. Konvensi Chicago 1944 menetapkan aturan umum keselamatan penerbangan dan merinci hak-hak penandatangannya dan Belarusia adalah salah satunya.

Anggota ICAO bertanggung jawab untuk menegakkan konvensi termasuk penerbangan melintasi negara lain secara aman dan terjamin di atas wilayah udara nasional.

Belarusia dituduh melanggar ketentuannya dengan memaksa pilot pesawat Ryanair untuk mendarat di Minsk dengan menggunakan klaim palsu Dengan menyebut ada sebuah bom di dalam pesawat. Akibatnya, Jet tempur MiG-29 terpaksa dikirim untuk mengawal pesawat sipil ke darat sehingga pilot tidak punya pilihan lain.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa rusia belarusia

Sumber : The Guardian

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top