Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mampukah Nadiem Pimpin Kemendikbud dan Ristek? Ini Kata Pengamat

Siapakah yang akan memimpin kementerian hasil merger antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Riset dan teknologi? Nadiem Makarim atau ada figur lain?
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 April 2021  |  13:03 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berfoto setelah menerima penghargaan Indonesia Government Procurement Awards dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk kategori Kementerian dengan Inovasi Pengadaan yang Mendukung Transparansi Belanja Pengadaan. - Istimewa
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berfoto setelah menerima penghargaan Indonesia Government Procurement Awards dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk kategori Kementerian dengan Inovasi Pengadaan yang Mendukung Transparansi Belanja Pengadaan. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana penggabungan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Riset dan Teknologi hanya tinggal eksekusi.

DPR sudah memberi sinyal persetujuan atas penggabungan dua kementerian tersebut.

Pertanyaannya kemudian, siapakah yang akan memimpin kementerian hasil merger tersebut, apakah masih Nadiem Makarim atau ada figur lain?

Bagaimana dengan kemampuan Nadiem jika ia ditunjuk memimpin kementerian hasil penggabungan tersebut?

Pemerhati pendidikan Ina Liem menyebut penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait dengan tren ekonomi masa depan.

“Tren ekonomi ke depan harus berbasis inovasi sehingga pendidikan juga perlu diarahkan ke sana. Apalagi, sebagian besar kegiatan riset juga telah dilakukan di perguruan tinggi. Ini sudah langkah tepat. Peleburan ini juga berarti riset dan inovasi dibiasakan dilakukan sebelum pendidikan tinggi,” ujar Ina di Jakarta, Selasa (13/4/2021) kepada Antara.

Dia menjelaskan Merdeka Belajar yang diusung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim merupakan konsep transformasi yang memberikan cara baru dalam peningkatan kualitas pendidikan. Itu dimulai dari usia dini, lanjut ke menengah, hingga pendidikan tinggi.

Bagi murid dan mahasiswa konsep Merdeka Belajar mendorong mereka lebih kreatif, berkarakter, berwawasan luas, nasionalisme yang kuat, serta cepat mengakses ilmu pengetahuan.

Ina menjelaskan saat ini kepribadian anak terbagi menjadi tipe konseptor dan pekerja. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi kedua karakter tersebut bekerja sama dan difasilitasi dunia pendidikan.

Ia menyebut contoh di Belanda. Di sana  terdapat 41 universitas yang fokus pada program terapan dan 14 riset.

Konsep Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka diharapkan mampu mendorong kemerdekaan institusi menentukan sendiri kekuatannya.

Berbagai episode Program Merdeka Belajar dari Mendikbud juga berfokus dalam peningkatan serta pemangkasan birokrasi yang tidak perlu. Program tersebut fokus meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan.

Sinergi Tiga Lembaga

Selama ini, Kemendikbud merupakan gabungan tiga lembaga yang disinergikan.

Ketiga lembaga tersebut adalah Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kebudayaan (sebelumnya Kementerian Pariwisata), dan Kementerian Pendidikan Tinggi (sebelumnya Kementerian Ristek Dikti).

Kendati di masa pandemi COVID-19, Kemendikbud dinilai mampu menjadi kementerian yang kuat, aktif, dinamis, dan terkoordinasi.

Berbagai langkah terobosan dalam pengelolaan tiga institusi besar dianggap mampu membuat Kemendikbud menjadi lembaga yang efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ina Liem mengungkapkan hampir 80 persen hingga 90 persen penelitian dilakukan perguruan tinggi. Penggabungan, kata dia, akan menciptakan birokrasi di bawah satu atap sehingga lebih ramping.

“Saya melihat ini penyederhanaan birokrasi. Kalau ada di bawah satu atap secara birokrasi lebih ramping, tidak ke sana kemari. Jadi tidak double. Selama ini perguruan tinggi riset dan Dirjen Dikti juga melaksanakan riset bersama berbagai kementerian teknis lain,” terang dia.

Konsep Merdeka Belajar untuk mendorong kreativitas. Tidak hanya penelitian, masalah vokasi juga mau ditekankan, sarjana terapan juga mau didorong.

“Jadi bukan hanya riset, tetapi aplikasi juga. Ini waktunya unjuk gigi bagi para institusi yang tadinya banyak orang-orang yang mau berinovasi tetapi terbatas birokrasi, nomenklatur, sehingga sulit,” terang Ina Liem.

Ina Liem memperkirakan Nadiem tidak akan terlalu sulit mengelola Kemendikbudristek. Nadiem diprediksi akan menggabungkannya dengan pola di Dirjen Pendidikan Tinggi yang sebelumnya juga telah bergabung dengan Kemenristekdikti.

“Sebagai pimpinan bukan berarti dia pelaksananya yang harus ke sana kemari semuanya. Banyak dirjen di bawahnya. Selama ini kegiatan perguruan tinggi juga sudah termasuk riset," cetus dia.

Persetujuan Paripurna DPR

Terkait penggabungan kementerian tersebut, Rapat Paripurna DPR RI pada Jumat (9/4/2021) menyetujui Surat Presiden Nomor R-14/Pres/03/2021.

Surpres tersebut menyangkut soal Pertimbangan Pengubahan Kementerian yang sebelumnya telah dibahas dalam Rapat Konsultasi Pengganti Badan Musyawarah (Bamus) DPR pada 8 April 2021.

"Kami akan menanyakan apakah hasil keputusan Rapat Pengganti Bamus terhadap Surat Presiden terkait pertimbangan dan pembentukan kementerian dapat disetujui," kata Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam Rapat Paripurna DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat.

Seluruh anggota DPR yang hadir dalam Rapat Paripurna DPR pun menyatakan persetujuannya.

Dasco menjelaskan, Rapat Pengganti Bamus DPR pada Kamis (8/4) telah menyepakati Surat Presiden tersebut yaitu:

  • Pertama, penggabungan sebagian tugas dan fungsi Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sehingga menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Riset Teknologi.
  • Kedua, Rapat Pengganti Bamus DPR juga menyepakati pembentukan Kementerian Investasi untuk meningkatkan investasi dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Dasco mengatakan Pasal 19 ayat 1 UU nomor 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara menyatakan bahwa pengubahan sebagai akibat pemisahan atau penggabungan kementerian dilakukan dengan pertimbangan DPR.

Nasib BRIN

Penggabungan kemendikbud dan kemenristekdikti memunculkan pertanyaan soal nasib BRIN alias Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro menceritakan sempat mengusulkan agar kementeriannya kembali menjadi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

"Waktu akhirnya diputuskan dipisah, saya terus terang sebagai pertanggungjawaban terhadap komunitas peneliti perekayasa yang ada di sini, saya sudah mengusulkan kalau dipisah, BRIN terpisah sebagai badan. Kementerian kalau bisa kembali Ristekdikti," kata Bambang dalam diskusi bertema membangun ekosistem riset dan inovasi yang diselenggarakan Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) secara virtual yang dipantau dari Jakarta, Minggu (11/4/2021).

Alasan Bambang mengusulkan itu, karena riset dan perguruan tinggi adalah sebuah kombinasi yang baik. Riset merupakan salah satu komponen penting di perguruan tinggi.

Tapi, kata Bambang, bukan usulannya yang diambil dan akhirnya riset digabung ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Secara pribadi saya juga merasa tidak enak, sedih, karena boleh dibilang saya menjadi Menristek terakhir. Karena ristek tidak lagi sebagai kementerian yang berdiri sendiri," kata Bambang.

Dia mengaku belum mengetahui detail penggabungan tersebut dan mengenai format terbaru dari BRIN.

"Ada versi yang menginginkan semua dilebur ke dalam BRIN. Ini yang tentunya kita masih harus menunggu bagaimana nantinya perkembangan," ujarnya.

Pernyataan Bambang menyiratkan, bahwa BRIN masih harus bersabar menunggu nasibnya di saat penggabungan dua kementerian dilaksanakan. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendikbud kemenristek Nadiem Makarim

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top