Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Lanka Larang Penggunaan Burkak, Muhammadiyah: Islamophobia

Selain larangan penggunaan burkak, pemerintah Sri Lanka juga berencana menutup lebih dari 1.000 sekolah Islam yang menentang kebijakan nasional. 
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 16 Maret 2021  |  13:17 WIB
Keluarga menaruh bom di makam Rexy Duglas (67), tiga hari setelah serangkaian bom bunuh diri mengguncang 3 gereja dan 4 hotel pada Hari Paskah, di sebuah pemakaman dekat Gereja St. Sebastian, Negombo, Sri Lanka, Rabu (24/4/2019). - Reuters/Athit Perawongmetha
Keluarga menaruh bom di makam Rexy Duglas (67), tiga hari setelah serangkaian bom bunuh diri mengguncang 3 gereja dan 4 hotel pada Hari Paskah, di sebuah pemakaman dekat Gereja St. Sebastian, Negombo, Sri Lanka, Rabu (24/4/2019). - Reuters/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menilai larangan menggunakan burkak (burqa) bagi wanita muslim di Sri Lanka akan menggemakan Islamophobia.

Menurutnya, penutupan sekolah Islam dan pelarangan burkak bertentangan dengan hak asasi manusia dan menyakiti hati umat Islam. Dia menilai pemberantasan terorisme perlu mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

“Kalau seandainya pemerintah Sri Lanka terlalu dihantui oleh tindakan-tindakan kekerasan dan terorisme, maka langkah yang harus ditempuh dan diambil bukanlah dengan menutup sekolah-sekolah Islam, tetapi dengan meningkatkan kemampuan aparat intelijennya,” katanya seperti dikutip dari laman resminya. 

Lebih lanjut, Anwar juga meminta agar Pemerintah Indonesia segera melakukan upaya agar Pemerintah Sri Lanka menempuh cara lain di luar kebijakan yang bersifat Islamophobia.

“Sehingga hal-hal yang bersifat Islamophobia dan tidak proporsional serta tidak etis ini tidak harus terjadi,” tutupnya.

Burkak merupakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh serta wajah. Adapun bagian mata ditutup oleh kawat kasa agar dapat melihat. Biasanya dikenakan oleh sebagian perempuan muslim di Afganistan, Pakistan, dan India Utara.

Seperti diberitakan Al Jazeera, pada Sabtu, Menteri Keamanan Publik Sri Lanka Sarath Weerasekera telah menandatangani dokumen berupa izin dari kabinet untuk melarang burkak.

“Burkak berdampak langsung kepada keamanan langsung. Itu adalah tanda ekstremisme yang muncul sekarang. Kami pasti akan melarangnya,” kata Weerasekara dalam upacara di kuil Buddha. 

Pemerintah Sri Lanka juga berencana menutup lebih dari 1.000 sekolah Islam yang menentang kebijakan nasional. 

Rakyat Sri Lanka tidak setuju terhadap rencana tersebut dan memandang keputusan itu sebagai upaya untuk menenangkan mayoritas Buddha di Sri Lanka. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan perpecahan.

Seperti diketahui, 75 persen dari total populasi Sri Lanka sebesar 22 juta adalah penganut Buddha Sinhala. Sementara itu, minoritas etnis tamil yang kebanyakan beragama Hindu sebesar 15 persen dan muslim sebesar 9 persen. 

Pengumuman tersebut hanya beberapa pekan menjelang peringatan kedua serangan Paskah 2019 di tiga gereja dan tiga hotel mewah di negara itu yang menewaskan sedikitnya 269 orang.

Dua kelompok muslim lokal yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam atau ISIL (ISIS) disebut bertanggung jawab atas kejadian tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri lanka muhammadiyah
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top