Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Survei Indikator: 41 Persen Warga Ogah Divaksin Covid-19, Ini Alasannya

Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan sebesar 54,9 responden menyatakan bersedia menjalani vaksinasi Covid-19, sedangkan 41 persen sisanya tidak bersedia.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 21 Februari 2021  |  18:48 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau pelaksanaan Vaksinasi Massal bagi tenaga kesehatan dosis pertama vaksin Covid-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). - Antara
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau pelaksanaan Vaksinasi Massal bagi tenaga kesehatan dosis pertama vaksin Covid-19 Sinovac di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terkait vaksinasi Covid-19. Dari survei tersebut, sebesar 54,9 responden menyatakan bersedia menjalani vaksinasi Covid-19, sedangkan 41 persen sisanya tidak bersedia.

Hasil itu diperoleh dari survei Indikator Politik Indonesia pada 1 - 3 Februari 2021. Dari kajian tersebut, 15,8 persen responden mengatakan sangat bersedia disuntik vaksin dan 39,1 persen cukup bersedia.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi mengatakan bahwa 1.200 responden diberi pertanyaan ‘Jika vaksin Covid-19 sudah tersedia, apakah ibu/bapak bersedia melakukan vaksinasi Covid-19?’.

“Yang mengagetkan saya secara pribadi meskipun surveinya sudah dilakukan setelah Presiden sendiri langsung menjadi orang pertama untuk divaksin, masih banyak yang tidak bersedia,” kata Burhanuddin, Minggu (21/2/2021).

Secara keseluruhan hasil survei menyebutkan 15,8 persen sangat bersedia menjalani vaksinasi; 39,1 persen cukup bersedia. Total responden yang bersedia divaksin ini mencapai 54,9 persen.

Sementara itu, 32,1 persen responden menyatakan kurang bersedia; 8,9 persen sangat tidak bersedia dan 4,2 persen tidak menjawab atau tidak tahu. Adapun, akumulasi responden kurang bersedia dan sangat tidak bersedia divaksin adalah 41 persen.

Dia menerangkan pada survei Desember 2020, IPI mendapati bahwa masyarakat yang tidak bersedia atau sangat tidak bersedia menjalani vaksinasi 43 persen. Artinya vaksinasi pertama yang dijalani Presiden Jokowi pada Januari 2021 hanya berdampak 2 persen pada responden dari tidak bersedia divaksinasi menjadi bersedia.

“Saya kira yang lain juga merasakan perasaan yang sama. Karena masih ada juga ini 4,2 persen yang tidak mau jawab. Jadi 41 persen bulan Februari itu bukan angka yang kecil. Ini bisa menjadi masalah karena vaksinasi itu pada dasarnya bicara unuk kepentingan bersama,” ujarnya.

Di sisi lain, responden yang enggan divaksin memiliki beberapa alasan. Survei IPI menunjukkan 54,2 persen menyebut mungkin ada efek samping yang belum ditemukan, 27,0 persen merasa vaksin tidak efektif dan 23,8 persen merasa tidak membutuhkannya.

Alasan lain responden adalah tidak mau membayar untuk mendapatkan vaksin Covid-19 (7,3 persen), vaksin mungkin tidak halal (10,4 persen), banyak yang akan mendapatkan vaksin jadi tidak perlu ikut vaksinasi (5,9 persen), tidak mau masuk persekongkolan perusahaan farmasi yang membuat vaksin (3,1 persen dan alasan lainnya 11,0 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Covid-19 Vaksin Covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top