Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemecatan 2 Adik Sultan HB X & Isu Suksesi di Kraton Yogyakarta

Keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X) yang memecat dua adik tirinya, Gusti Bendara Pangeran Hario (GBPH) Yudaningrat dan GBPH Prabukusumo, memunculkan kesan adanya keretakan dari para penerus Dinasti Mataram tersebut.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 22 Januari 2021  |  09:03 WIB
Abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat - Ilustrasi
Abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Keluarga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Yogyakarta tiba-tiba menjadi pergunjingan khalayak ramai.

Penyebabnya adalah keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X) yang memecat dua adik tirinya, Gusti Bendara Pangeran Hario (GBPH) Yudaningrat dan GBPH Prabukusumo, dari jabatan strategis di kraton penerus Dinasti Mataram tersebut.

Pemecatan itu dilakukan karena menurut Ngarsa Dalem, begitu HB X biasa disapa, kedua adiknya itu tak pernah menjalankan tugas sebagai penghageng di Kraton Yogyakarta selama 5 tahun terakhir. Istilah HB X, mereka ming (hanya)  makan gaji buta.

Dasar pemecatan itu ditandai dengan keluarnya sebuah surat berbahasa Jawa. Surat itu diteken pada 2 Desember 2020. Isi suratnya adalah Sultan menetapkan dua putrinya masing-masing sebagai kepala departemen inti Keraton Yogya.

Pada Bab I surat itu, Sultan menetapkan putri sulungnya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi sebagai Penggedhe (kepala) Kawedanan Hageng Punakawan Parwa Budaya Keraton Yogyakarta.

Penetapan Mangkubumi ini sekaligus melengserkan posisi yang diduduki adik tiri Sultan, Gusti Bendara Pangeran Hario (GBPH) Yudaningrat.

Sebelum diangkat, GKR Mangkubumi berkedudukan sebagai wakil dari lembaga yang keraton yang memiliki tugas mengatur segala pelaksanaan kebijakan di bidang agama, adat, dan kebudayaan itu.

Selanjutnya, pada Bab II surat itu, Sultan menetapkan putri bungsunya, GKR Bendara sebagai penggedhe Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Keraton Yogyakarta.

Pengangkatan GKR Bendara yang sebelumnya duduk sebagai wakil lembaga yang kewenangannya mengatur kebijakan di bidang kebudayaan itu, otomatis melengserkan posisi adik tiri Sultan lainnya, GBPH Prabukusumo.

Peristiwa pemecatan itu sempat memunculkan tafsiran bahwa ini ada sangkut pautnya dengan ontran-ontran Sabda Raja yang muncul pada 2015 silam. Peristiwa itu memang memunculkan keretakan antara HB X dengan para pengeran alias adik tirinya.

"Tidak ada hubungannya [dengan sabda raja] wong nyatanya yang tidak setuju sama saya kalau tetap dia melaksanakan tugas sebagai Penghageng juga tidak saya berhentikan. Mas Jatiningrat, Mas Hadiwinoto kan juga tetap kerja karena tetap melaksanakan tugas," tegas HB X kemarin.

Di sisi lain, para adik Sultan yang dipecat berpendapat yang sebaliknya. Mereka menilai apa yang dilakukan HB X sangat sulit untuk tidak dikaitkan dengan ketidaksetujuan mereka dengan peristiwa Sabda Raja 5 tahun lalu.

"Kraton Yogyakarta tidak mengenal nama Bawono, artinya surat itu batal demi hukum," kata salah satu adik tiri Sultan HB X yang posisinya dilengserkan, Gusti Bendara Pangeran Hario Prabukusumo, Selasa, 19 Januari 2021.

Prabukusumo menilai dalam surat itu tersirat amarah Sultan. Kemarahan itu menurut Prabu tampak dari penulisan namanya yang salah karena Sultan terlalu tergesa ingin surat itu keluar dan tak memeriksanya lagi. Nama Prabukusumo dalam surat itu memang salah ditulis menjadi Prabukumo. 

Namun, secara materi surat itu menurut Prabu memang cacat hukum. Sebab menurutnya jabatannya sebagai kepala (penggedhe) Nitya Budaya Keraton adalah pemberian ayahandanya yang juga ayahanda Sultan HB X, yakni Sultan HB IX. 

"Yang mengangkat saya dulu almarhum Bapak Dalem HB IX lalu diteruskan HB X," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kraton yogyakarta sri sultan hamengkubuwono

Sumber : Tempo & Solopos

Editor : Edi Suwiknyo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top