Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Impor Komoditas Utama dari China Melambat, Minyak dan Gas Pemicunya

Di antara komoditas utama, impor minyak mentah turun ke level terendah enam bulan 42,6 juta ton karena kilang swasta kehabisan kuota dan perusahaan negara memangkas pembelian karena pemeliharaan. Tidak hanya itu, impor batu bara dan gas alam juga mengalami pelambatan
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 09 November 2020  |  10:45 WIB
Foto udara kapal yang mengangkut kontainer di Pelabhuan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\n
Foto udara kapal yang mengangkut kontainer di Pelabhuan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Impor komoditas utama China turun pada bulan Oktober dari bulan sebelumnya, terutama karena faktor musiman termasuk liburan yang diperpanjang di awal bulan.

Alhasil, impor negara ini yang lebih luas tidak dapat menahan laju bulan September yang penuh ketidakpastian sehingga pertumbuhannya merosot di bawah konsensus sebesar 4,7 persen.

"[Padahal] Ekspansi bulanan kedua berturut-turut menunjukkan kenaikan terus menerus dalam permintaan domestik," menurut Bloomberg Economics.

Di antara komoditas utama, impor minyak mentah turun ke level terendah enam bulan 42,6 juta ton karena kilang swasta kehabisan kuota dan perusahaan negara memangkas pembelian karena pemeliharaan, menurut data bea cukai China pada hari Sabtu lalu (7/11/2020).

Namun, penghitungan untuk tahun ini kemungkinan akan meningkat 10 persen dari 2019 menjadi lebih dari 550 juta ton karena rebound ekonomi mendorong permintaan, ungkap seorang eksekutif senior di China Petrochemical Corp. di sebuah konferensi energi di Shanghai, Minggu (9/11/2020).

Pembelian batu bara di bulan Oktober merosot menjadi 13,7 juta ton, terendah untuk tahun ini. Hal ini dipicu karena pembeli mendekati batas tahunan tidak resmi sekitar 300 juta ton.

Pengiriman tahunan sebesar 253 juta ton menunjukkan lebih banyak ruang untuk impor dalam dua bulan terakhir, meskipun larangan batu bara dari pemasok utama Australia berarti bahwa akan ada sumber lain atau negara lain yang diuntungkan.

Impor gas alam turun ke level terendah tiga bulan di 7,5 juta ton. Ini diperkirakan adalah jeda sebelum puncak permintaan musim dingin.

Dikutip dari Bloomberg, pengiriman bijih besi ke China mencapai 100 juta ton untuk bulan kelima ini, dengan total tahun berjalan atau year-to-date sebesar 11 persen. Pertumbuhan yang lesu ini disebabkan karena kebijakan pemerintah China yang beralih ke belanja infrastruktur yang biasa secara royal untuk meremajakan ekonomi.

Perlambatan diperkirakan terjadi pada bulan-bulan berikutnya karena pembatasan produksi musim dingin mengurangi permintaan dari industri baja.

Pembelian tembaga turun ke level terendah lima bulan - meskipun masih naik lebih dari 40 persen selama 10 bulan pertama - sementara pembelian bijih turun dari level tertinggi bulan September tahun 2020, karena jeda permintaan musiman mulai bertahan.

Impor kedelai turun menjadi 8,7 juta ton, level terendah dalam enam bulan, karena kargo dari Brasil, pemasok terbesar kedelai ke China, menyusut.

Tetapi, totalnya jauh lebih tinggi daripada tahun lalu karena pemulihan di sektor peternakan domestik setelah penyakit demam babi Afrika, dan adanya perjanjian pembelian produk AS untuk memenuhi kewajiban kesepakatan perdagangan China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor china gas alam minyak mentah

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top