Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bos Facebook Deg-degan Jelang Pilpres AS

Pasalnya, Facebook selama empat tahun telah bekerja dan melakukan penyesuaian untuk membasmi campur tangan asing, diskriminasi pemilih, seruan kekerasan dan banyak lagi. Pilpres ini akan menjadi penentu usaha tersebut.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  09:01 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg bersaksi di depan sidang Komite Energi dan Perdagangan DPR AS mengenai penggunaan dan perlindungan data pengguna Facebook, di Capitol Hill di Washington, 11 April 2018. - Reuters
CEO Facebook Mark Zuckerberg bersaksi di depan sidang Komite Energi dan Perdagangan DPR AS mengenai penggunaan dan perlindungan data pengguna Facebook, di Capitol Hill di Washington, 11 April 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Mark Zuckerberg, founder Facebook Inc., mengungkapkan pemilihan presiden AS 3 November 2020 akan menjadi ujian bagi perusahaan.

Pasalnya, Facebook selama empat tahun telah bekerja dan melakukan penyesuaian untuk membasmi campur tangan asing, diskriminasi pemilih, seruan kekerasan dan banyak lagi.

"Minggu depan pasti akan menjadi ujian bagi Facebook," kata Zuckerberg.

“Integritas pemilu adalah dan akan menjadi tantangan berkelanjutan. Dan saya bangga dengan pekerjaan yang telah kami lakukan di sini."

Facebook telah menghadapi kritik tajam sejak pemilu 2016, ketika operator Rusia menggunakan Facebook dan Instagram untuk menyebarkan informasi yang salah dan memicu perselisihan. Upaya ini butuh waktu berbulan-bulan untuk penyelidikan.

Zuckerberg mengatakan perusahaan telah menempuh perjalanan panjang sejak saat itu, dengan menghancurkan 100 jaringan terkoordinasi serupa dari Rusia, China, Iran dan tempat lain, dan telah membangun sistem yang lebih baik untuk mendeteksi identitas palsu.

Perusahaan juga membuat arsip iklan dan meluncurkan aturan yang melarang posting menyesatkan tentang pemungutan suara. Mereka berusaha menutup celah dalam data sharing yang terungkap dalam skandal Cambridge Analytica.

Cambridge Analytica adalah perusahaan konsultan yang pada 2016 menggunakan data penargetan yang diperoleh secara tidak benar melalui kuis Facebook.

Baru-baru ini, Facebook semakin terlibat langsung dalam jenis konten apa yang dilihat penggunanya, mendorong jutaan orang untuk mendaftar memilih dan mengarahkan orang ke pusat informasi dengan detail terverifikasi dari pejabat pemilu yang valid, serta berusaha untuk melawan apa pun yang menyesatkan yang mungkin menyebar di sekitar minggu pemilu.

Namun, dengan 2,74 miliar pengguna bulanan, jejaring sosial ini kemungkinan akan kesulitan untuk tetap terdepan dalam semua cara, terutama dalam melindungi platformnya dari pelaku jahat. Zuckerberg memperkirakan kekerasan bisa datang dari beberapa kelompok yang telah terorganisir di Facebook dan baru-baru, hal tersebut berhasil dihapus.

"Saya khawatir dengan bangsa kita yang begitu terpecah belah, dan hasil pemilu yang berpotensi memakan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk diselesaikan, ada risiko kerusuhan sipil di seluruh negeri," ujarnya.

“Mengingat hal ini, perusahaan seperti kami harus melampaui apa yang telah kami lakukan sebelumnya,” tegas Bos Facebook tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

facebook Pilpres as 2020

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top