Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Turki Kecam Aksi Teror di Nice dan Serukan Solidaritas untuk Prancis

Dalam pernyataan pers Kementerian Luar Negerinya, Turki menyatakan bahwa tidak ada alasan apapun yang bisa menjustifikasi pembunuhan warga tidak bersalah di Nice.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  03:30 WIB
Sejumlah petugas keamanan berjaga di depan Basilika Notre Dame di Nice, Prancis. Wilayah tersebut tampak dilarang untuk umum setelah aksi penyerangan oleh oknum bersenjata tajam menewaskan tiga orang, Kamis (29/10/2020) -  Twitter/@cestrosi
Sejumlah petugas keamanan berjaga di depan Basilika Notre Dame di Nice, Prancis. Wilayah tersebut tampak dilarang untuk umum setelah aksi penyerangan oleh oknum bersenjata tajam menewaskan tiga orang, Kamis (29/10/2020) - Twitter/@cestrosi

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Turki angkat bicara terkait aksi terorisme di Notre-Dame Basilicia, Nice, Prancis, Kamis (29/10/2020). Serangan seorang oknum bersenjata tajam di sebuah gereja itu telah menyebabkan 3 orang tewas dan sejumlah korban luka.

Dalam pernyataan pers Kementerian Luar Negerinya, Turki mengecam aksi tersebut. Turki menyatakan bahwa tidak ada alasan apapun yang bisa menjustifikasi pembunuhan warga tidak bersalah di Nice.

"Sangat jelas bahwa mereka yang mengorganisir serangan brutal di tempat suci tersebut tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan, moral, ataupun religiositas," ujar pernyataan pers Kementerian Luar Negeri Turki, dikutip dari CNN, Kamis, (29/10/2020).

Kementerian Luar Negeri Turki melanjutkan bahwa mereka menyatakan solidaritas terhadap para korban dan keluarga mereka. Mereka turut berduka atas apa yang terjadi dan berharap kasus tersebut dapat segera dituntaskan.

Turki tidak lupa menyinggung isu terorisme yang tengah dihadapi Prancis. Sebagaimana diketahui, dalam dua pekan terakhir, total sudah dua kali Prancis berhadapan dengan kasus terorisme.

Sebelum kasus di Nice, kasus serupa terjadi pada 16 Oktober lalu di Paris yang menewaskan seorang guru bernama Samuel Paty.

"Sebagai negara yang berurusan dengan berbagai macam terorisme dan kehilangan warga karenanya, kami menekankan solidaritas dengan warga Prancis, terutama penduduk Nice, terkait perang terhadap terorisme," ujar Kementerian Luar Negeri Turki menambahkan.

Belum diketahui apakah pernyataan terbaru dari Turki tersebut sekaligus sebagai ajakan 'gencatan' dengan Prancis. Beberapa hari terakhir, hubungan kedua negara memanas karena ucapan Presiden Emmanuel Macron dan karikatur dari Charlie Hebdo.

Emmanuel Macron menuding Islam Radikal sebagai dalang di balik sejumlah aksi teror di Prancis. Menurutnya, hal tersebut sebagai hasil dari krisis Islam. Oleh karena itu, dia akan bertindak lebih tegas terhadap komunitas Islam yang dirasa radikal, termasuk menutup masjid yang melindungi mereka.

Hal itu diperburuk dengan dukungan penerbitan kembali karikatur Nabi Muhammad dari majalah Charlie Hebdo. Bahkan, Charlie Hebdo edisi pekan ini menampilkan karikatur Erdogan sebagai sampul utamanya. Hal itu mendorong boikot produk-produk Prancis oleh Turki.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

prancis turki teroris Charlie Hebdo

Sumber : Tempo

Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top