Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pelajaran Sejarah Bakal Tak Diwajibkan, Begini Keluh Kesah Guru

Kemendikbud dikabarkan tengah menggodok penyederhanaan kurikulum untuk diterapkan tahun depan. Dampaknya, sejumlah pelajaran dijadikan tak wajib.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 18 September 2020  |  21:24 WIB
Buku pelajaran Kurikulum 2013 untuk tingkat SD, SMP dan SMA/SMK yang sebelumnya telah dipakai sebagai bahan ajar di beberapa sekolah yang sudah menerapkan kurikulum tersebut, pada tahun ajaran mendatang masih berlaku. - Bisnis
Buku pelajaran Kurikulum 2013 untuk tingkat SD, SMP dan SMA/SMK yang sebelumnya telah dipakai sebagai bahan ajar di beberapa sekolah yang sudah menerapkan kurikulum tersebut, pada tahun ajaran mendatang masih berlaku. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Kabar bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah menggodok penyederhanaan kurikulum untuk diterapkan tahun depan ramai dibicarakan di media sosial belakangan ini. Sejumlah pelajaran termasuk sejarah dijadikan tak wajib.

Menanggapi hal itu, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengatakan guru yang mata pelajarannya jadi pelajaran tak wajib saat ini gundah dan cemas.

“Karena yang ramai pelajaran sejarah, ya mereka [guru sejarah] gundah, karena artinya jam mata pelajaran mereka terancam berkurang, konsekuensinya berpengaruh pada kompetensi guru yang harusnya mengajar 24 jam per pekan. Otomatis sertifikasi mereka bisa turun,” jelas Wakil Sekjen FSGI Satriwan Salim kepada Bisnis, Jumat (18/9/2020).

FSGI mengatakan dengan ramainya perbincangan soal rencana itu diharapkan Kemendikbud bisa memberikan ruang aspirasi bagi guru untuk memberikan kritik dan saran terkait penyusunan penyederhanaan kurikulum tersebut.

“Guru, lembaga pendidik tenaga pendidikan seperti universitas pendidikan, pakar kurikulum, dan orang tua siswa harus dilibatkan. Lalu juga harus ada evaluasi pada kurikulum sebelumnya yang ingin disederhanakan atau diubah, jangan sampai tahu-tahu muncul lalu kami guru dijadikan kelinci percobaan,” jelasnya.

Satriwan membeberkan bahwa tak hanya pelajaran sejarah yang jadi 'korban' menjadi pelajaran tak wajib. Sejarah jadi sorotan lantaran dinilai bisa berpengaruh pada rasa nasionalisme murid.

Pelajaran lain yang terkena imbas penyederhanaan antara lain pelajaran agama dan budi pekerti yang disederhanakan menjadi kelompok agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian ada program pendidikan karakter yang justru dibuat mata pelajaran tersendiri.

“Seakan-akan mata pelajaran lain seperti matematika, Bahasa, PPKn, dan pelajaran lainnya tidak mengajarkan pengembangan karakter. Ini bagi saya keliru,” ungkapnya.

Kemudian, ada sejumlah mata pelajaran baru seperti pengalaman dunia kerja untuk SMA, mata pelajaran vokasional, dan kewirausahaan.

“Ini memang bisa menjadi terobosan dan menjadi hal yang baru. Ini bisa direspons mungkin agar sesuai dengan tuntutan zaman. Tapi rencana kurikulum ini bukan jadi lebih sederhana tapi malah jadi makin kompleks, makin beragam, dan malah mengubah kurikulum 2013,” sambungnya.

Dia menegaskan, apabila rencana ini benar, agar ada evaluasi terhadap kurikulum 2013 dan Kemendikbud bisa memberikan ruang aspirasi bagi guru dan satuan pendidikan lainnya untuk menggodok penyederhanaan kurikulum tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendikbud kurikulum Federasi Serikat Guru Indonesia
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top