Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Trump Jual Mahal, China Ingin Pembicaraan Dagang Segera Berlangsung

Ini akan menjadi pertemuan langka antara ekonomi terbesar dunia di tengah hubungan keduanya yang memburuk akibat masalah hak asasi manusia di Hong Kong hingga dominasi teknologi.
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020)/ Bloomberg - Stefani Reynolds
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020)/ Bloomberg - Stefani Reynolds

Bisnis.com, JAKARTA - China mengonfirmasi rencana untuk melakukan pertemuan segera dengan pejabat Amerika Serikat guna meninjau kemajuan pada kesepakatan perdagangan awal keduanya.

Ini akan menjadi pertemuan langka antara ekonomi terbesar dunia di tengah hubungan keduanya yang memburuk akibat masalah hak asasi manusia di Hong Kong hingga dominasi teknologi.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Gao Feng menuturkan kedua negara akan berhubungan dalam waktu dekat.

Namun, Gao tidak mengumumkan tanggal pasti, atau menjelaskan lebih lanjut terkait dengan detail pertemuan tersebut.

Kedua pihak telah menjadwalkan pertemuan pada akhir minggu ini sebagai bagian dari tinjauan enam bulan setelah kesepakatan pertama yang ditandatangani Januari lalu.

Awal minggu ini, Trump sempat mengemukakan bahwa dirinya membatalkan semua pertemuan dengan China karena dia tidak senang dengan peran China dalam pandemi Covid-19.

"Saya tidak ingin mengambil keputusan dengan mereka sekarang. Dengan apa yang mereka lakukan terhadap negara ini dan dunia. Saya tidak ingin berbicara dengan China," tegas Trump.

Ketika ditanya apakah diriny akan mencabut perjanjian dagang, dia menolak berkomentar. "Kita lihat saja apa yang terjadi."

Penasihat ekonomi Presiden Trump Larry Kudlow mengatakan bahwa kedua negara tetap berhubungan terkait dengan perjanjian dagang, kendati tekanan dalam hubungan diplomatik berada dalam posisi yang lain.

"Kami sangat berseberangan dengan China dalam sejumlah masalah, seperti yang Anda ketahui: merampas kebebasan di Hong Kong, peretasan, sabotase, spionase, tindakan mereka soal asal mula flu China, aktivitas di Laut China Selatan," kata Kudlow.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hadijah Alaydrus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper