Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inggris Alami Krisis Pasar Tenaga Kerja, Terburuk Sejak 2009

Kantor Statistik Nasional juga mengatakan penurunan dalam pekerjaan didorong oleh pekerja berusia 65 tahun ke atas, wiraswasta dan pekerja paruh waktu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  16:01 WIB
Penumpang kereta bawah tanah di London mengenakan masker untuk menghindari penularan virus corona Covid-19. - Bloomberg
Penumpang kereta bawah tanah di London mengenakan masker untuk menghindari penularan virus corona Covid-19. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Krisis pasar tenaga kerja Inggris yang memuncak digarisbawahi oleh penurunan 220.000 pekerjaan selama puncak penguncian virus Corona, terburuk sejak krisis keuangan global.

Kantor Statistik Nasional mengatakan indikator awal untuk Juli menunjukkan bahwa jumlah karyawan yang menerima gaji turun sekitar 730.000 dibandingkan dengan Maret.

Angka-angka tersebut menyoroti guncangan ekonomi yang diperkirakan akan meningkat karena dukungan pemerintah untuk gaji secara bertahap ditarik mulai bulan ini. Menteri Keuangan Rishi Sunak dituntut untuk memperpanjang program cuti yang sejauh ini mencegah krisis ekonomi terburuk.

"Penurunan tajam dalam ketenagakerjaan dan tingkat lowongan yang tenang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja telah mengalami pukulan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir," kata Dan Hanson, ekonom senior Inggris, dilansir Bloomberg, Selasa (11/8/2020).

Hanson memprediksi penurunan yang sebenarnya akan terungkap setelah skema cuti pemerintah berakhir pada Oktober. Perkiraan dasarnya memperkirakan tingkat pengangguran mencapai puncaknya di 8,5 persen pada akhir tahun.

Pekerja dalam program cuti, yang telah membantu mendukung 9,6 juta pekerjaan sejak Maret, tergolong masih dipekerjakan. Baik Bank of England dan pengawas fiskal Inggris telah memperingatkan percepatan kenaikan pengangguran ketika skema tersebut berakhir Oktober.

Data mengungkapkan bukti berbasis luas dari pukulan ke pasar tenaga kerja yang disebabkan oleh pandemi, yakni pembayaran tidak termasuk bonus turun 0,2 persen pada kuartal kedua dari tahun sebelumnya.

Sementara lowongan telah meningkat sejak ekonomi mulai dibuka kembali, terdapat 274.000 lebih sedikit peluang kerja dalam tiga bulan hingga Juli dibandingkan pada kuartal sebelumnya.

Adapun, jumlah klaim tunjangan pengangguran naik menjadi 2,69 juta pada Juli, meningkat hampir 1,5 juta sejak Maret. Sekitar 7,5 juta pekerja, termasuk karyawan yang cuti, untuk sementara tidak bekerja pada Juni, dengan lebih dari 3 juta cuti setidaknya selama tiga bulan.

Jumlah jam kerja rata-rata setiap minggu pada kuartal kedua anjlok 18,4 persen ke level terendah sejak 1994.

Pembuat kebijakan BOE memperkirakan pengangguran akan meningkat secara material menjadi sekitar 7,5 persen pada akhir tahun, disertai dengan peningkatan ketidakaktifan sekitar 400.000 orang dibandingkan sebelum krisis.

Beberapa perusahaan sudah mulai mundur. Bulan ini saja, agen koran dan pengecer alat tulis WH Smith PLC mengatakan akan memangkas 1.500 pekerjaan, sementara Dixons Carphone Plc mengatakan akan kehilangan 800 posisi.

Perusahaan lain yang mengumumkan kerugian baru-baru ini termasuk Boots, John Lewis Partnership, department store Selfridges dan Harrods, dan pengecer mewah Burberry dan Mulberry.

Kantor Statistik Nasional juga mengatakan penurunan dalam pekerjaan didorong oleh pekerja berusia 65 tahun ke atas, wiraswasta dan pekerja paruh waktu. Ada juga sekitar 300.000 orang tidak bekerja karena pandemi dan tidak menerima bayaran pada Juni.

Sebagian besar pejabat BOE setuju bahwa pasar tenaga kerja akan menjadi kunci pemulihan. Beberapa ekonom memperingatkan lebih dari 3 juta orang bisa kehilangan pekerjaan sebelum akhir 2020, terburuk sejak deindustrialisasi Inggris di bawah Margaret Thatcher pada 1980-an.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris pengangguran PASAR TENAGA KERJA
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top