Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ledakan di Pelabuhan Beirut Lebanon 10 Kali Lebih Dahsyat dari Ledakan di Texas

Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat menyebut ledakan di Texas terjadi pada 2013. Perusahaan pupuk West Fertilizer Company meledak karena menyimpan 240 ton amonium nitrat dan 50 ton amonium anhidrat di gudangnya.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  15:26 WIB
Ledakan di Pelabuhan Beirut, Lebanon karena ribuan ton amonium nitrat terbakar, Selasa (4/8/2020). - Twitter @borzou
Ledakan di Pelabuhan Beirut, Lebanon karena ribuan ton amonium nitrat terbakar, Selasa (4/8/2020). - Twitter @borzou

Bisnis.com, JAKARTA – Tagar #PrayForLebanon di Twitter menjadi trending nomor satu di seluruh dunia.

Warganet membandingkan ledakan besar di pelabuhan utama Lebanon tersebut, diperkirakan 55 kali lipat lebih besar dari peristiwa serupa di Texas tujuh tahun lalu.

Penyebab ledakan besar di Lebanon adalah 2.750 ton amonium nitrat terbakar. Bahan tersebut biasa digunakan sebagai bahan untuk pupuk karena tinggi nitrogen, namun juga mudah terbakar apabila tercampur dengan bahan lain yang mudah terbakar juga.

“Di Texas pada 2014 terjadi ledakan akibat amonium nitrat sebanyak 30 ton. Di Beirut disebutkan 2.750 ton,” tulis akun twitter @aslamkhanbombay, Rabu (5/8/2020).

Faktanya, menurut laporan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat, ledakan di Texas terjadi pada 2013. Perusahaan pupuk West Fertilizer Company meledak karena menyimpan 240 ton amonium nitrat dan 50 ton amonium anhidrat di gudangnya.

Artinya, ledakan di Lebanon besarnya 10 kali lipat dibandingkan dengan ledakan di Texas. Padahal, dalam peristiwa ledakan di Texas ada 15 orang tewas dan 160 orang luka, selain itu lebih dari 150 gedung rusak dan hancur.

Mengutip Forbes.com, alih-alih mirip ledakan di Hiroshima, ledakan di Pelabuhan Beirut lebih mirip seperti peristiwa ledakan di Pelabuhan Halifax, Kanada.

Peristiwa yang terjadi pada masa Perang Dunia I tersebut menewaskan 1.963 orang dengan lebih dari 9.000 orang luka-luka serta 6.000 orang kehilangan rumah.

Hal itu lantaran seluruh bangunan dengan radius 1.600 kaki dari pusat ledakan semuanya terempas dan rata dengan tanah.

Alex Wellerstein, sejarawan sains di Stevens Institute of Technology, mengatakan bahwa ledakan yang menghasilkan kepulan asap berbentuk jamur tersebut dihasilkan pada setiap ledakan besar, tak hanya ledakan dari bahan-bahan tertentu.

“Namun, untuk ledakan yang skalanya lebih besar seperti di Hiroshima asap atau awan yang terbentuk bertahan lebih lama. Warna merah dan oranye yang muncul setelah ledakan menunjukkan bahwa itu jelas bukan ledakan nuklir,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lebanon ledakan
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top