Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Prancis Kontraksi 13,8 Persen, Terparah Sepanjang Sejarah

Penurunan tingkat konsumsi, perdagangan, dan investasi akibat pandemi Covid-19 membuat ekonomi terbesar kedua Eropa itu harus rela terkontraksi lebih dalam.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 31 Juli 2020  |  14:53 WIB
Nasabah mengantre di luar salah satu cabang La Banque Postal SA di Paris, Prancis, Selasa (9/6/2020). - Bloomberg/Nathan Laine\n
Nasabah mengantre di luar salah satu cabang La Banque Postal SA di Paris, Prancis, Selasa (9/6/2020). - Bloomberg/Nathan Laine\\n

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonomi Prancis mencatatkan kontraksi 13,8 persen pada kuartal II/2020, angka terdalam sepanjang sejarah, disebabkan turunnya tingkat konsumsi, perdagangan, dan investasi.

Meski demikian, angka ini masih lebih baik ketimbang proyeksi para ekonom, yang memerkirakan ekonomi terbesar kedua Eropa itu bakal terkontraksi hingga 15,2 persen.

"Ini adalah angka yang parah, tapi tidak separah yang diperkirakan. Kita harus melanjutkan respons radikal dan kuat untuk bisa pulih dengan cepat," papar Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire kepada CNEWS, seperti dilansir Bloomberg, Jumat (31/7/2020).

Dalam menangani dampak pandemi, Pemerintah Prancis telah mengeluarkan 136 miliar euro untuk dana darurat. Pemerintah juga tengah menyiapkan paket stimulus senilai 100 miliar euro yang akan digunakan untuk investasi industri dan transisi ke ekonomi hijau.

Meski tingkat konsumsi menunjukkan perbaikan, naik ke level yang lebih tinggi ketimbang sebelum lockdown diberlakukan pada Februari 2020, dan inflasi tumbuh lebih cepat dari perkiraan ke level 0,9 persen pada bulan ini, tapi kepercayaan publik masih mengalami penurunan. Pemerintah juga memprediksi tingkat pengangguran dan tingkat kepailitan masih akan naik.

Realisasi ini memperparah pencapaian ekonomi Eropa yang mendapat pukulan berat dari pandemi Covid-19. Kemarin, Jerman telah lebih dulu mengumumkan kontraksi sebesar 10,1 persen pada periode April-Juni 2020, melanjutkan kontraksi 2 persen pada kuartal sebelumnya.

Spanyol bahkan mengalami kontraksi yang lebih besar, yakni 5,2 persen pada kuartal pertama tahun ini dan 18,5 persen pada kuartal berikutnya.

Secara keseluruhan, ekonomi zona euro diperkirakan mengalami kontraksi 12,1 persen pada kuartal kedua. Pada kuartal sebelumnya, ekonomi negara-negara Uni Eropa (UE) terkontraksi 3,6 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa prancis

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top