Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mas Menteri, Inilah Kendala Pembelajaran Daring di Teluk Wondama

Sekolah dan siswa di Wondama sama-sama menemukan kendala untuk penerapan belajar dari rumah secara daring.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 Juli 2020  |  13:59 WIB
Ilustrasi-Pelajar di desa terpecil terpaksa mengerjakan tugas sekolah di luar rumah lantaran keterbatasan jaringan internet - ANTARA/Adeng Bustomi
Ilustrasi-Pelajar di desa terpecil terpaksa mengerjakan tugas sekolah di luar rumah lantaran keterbatasan jaringan internet - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, TELUK WONDAMA - Belajar dari rumah dengan metode daring bukanlah perkara gampang bagi sekolah-sekolah yang berada di pinggiran. Tak hanya siswa, sekolah pun menemukan banyak kendala untuk melaksanakannya.

Kesulitan penerapan sistem pembelajaran melalui sistem daring atau dalam jaringan itu misalnya dirasakan satuan pendidikan di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Mereka terkendala jaringan, dan tidak semua siswa memiliki kuota serta gawai pintar (smart phone).

“Untuk belajar secara daring, sekolah kesulitan anggaran. Tidak bisa pakai dana BOS karena dana BOS, sesuai ketentuan hanya untuk membiayai delapan kegiatan prioritas, jadi kami sudah usulkan untuk ada bantuan (dari Pemda) untuk mendukung pembelajaran daring dan luar jaringan (luring)," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Hanok Mariai di Teluk Wondama, Senin (27/7/2020).

Para kepala sekolah dan pelaku pendidikan di kabupaten meminta pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk mendukung pembelajaran selama masa pandemi virus Corona atau Covid-19.

Keharusan siswa belajar dari rumah (BDR) dengan metode pembelajaran secara daring (online) maupun luring yang diterapkan dalam masa pandemi Covid-19 dirasakan memberatkan sekolah maupun para siswa.

Tidak hanya menyulitkan, metode belajar secara daring maupun luring membutuhkan biaya cukup besar. Jika memilih pembelajaran daring, sekolah dihadapkan dengan kondisi belum semua siswa memiliki gawai (handphone) android. Belum lagi biaya untuk pengisian kuota internet.

Hanok menyatakan belum lama ini telah dilaksanakan rapat bersama antara para kepala sekolah dengan Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Teluk Wondama di Gedung Sasana Karya kantor Bupati

Para kepala sekolah dan pengawas, kata Hanok, menyampaikan sejumlah kendala yang terjadi dalam pendidikan pada pertemuan tersebut.

Koordinator Pengawas Sekolah (Korwas) Steven M pada kesempatam sebelumnya menyatakan metode pembelajaran luring dengan sistem modul juga membutuhkan biaya yang cukup besar.

Selain biaya pengadaan modul, sekolah juga harus menyediakan anggaran ekstra untuk biaya transportasi para guru untuk mendatangi para siswa dari rumah ke rumah.

“Kalau belajar dari rumah khususnya untuk SD itu cukup sulit, guru kesulitan mengajar terutama bagi siswa kelas 1. Jadi kami butuh biaya untuk bisa lakukan belajar dari rumah, kami mohon ada kebijakan dari Pemda," ujar Ketua PGRI Teluk Wondama ini.

Hal senada disampaikan Ketua Pengurus Sekolah Wilayah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Kabupaten Teluk Wondama. Pihaknya berharap ada kebijakan khusus dari Pemkab Wondama untuk membantu sekolah maupun para siswa agar bisa menyelenggarakan pendidikan di masa pandemi ini.

Sekretaris Daerah Teluk Wondama yang juga selaku Sekretaris Gustu Covid-19 Denny Simbar mengatakan, pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu usulan dari para kepala sekolah.

Dia berharap pihak sekolah tetap mengupayakan agar proses belajar mengajar tetap berjalan meskipun tidak dalam bentuk tatap muka di kelas.

“Proses belajar mengajar harus tetap berjalan, silakan cari metode yang dianggap paling cocok tanpa belajar tatap muka. Soal dukungan anggaran nanti kita akan bicarakan dahulu tapi saya minta Dinas Pendidikan menyusun kebijakan pendidikan selama masa darurat Covid-19, “ ujar Simbar.

Sistem pembelajaran jarak jauh diwacanakan akan berlaku permanen seusai pandemi Covid-19. Hal itu terungkap dari rapat kerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Kamis (2/7/2020).

Menurut Nadiem, yang dikenal dengan sapaan Mas Menteri, PJJ tidak akan terlepas dari pemanfaatan teknologi. 

Berbagai kendala yang ada, seperti kondisi infrastruktur, tentu sudah dipetakan oleh Kemendikbud. Jadi, apa yang terjadi di Teluk Wondama, mestinya sudah diperkirakan oleh Mas Menteri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Papua Barat pembelajaran online

Sumber : Antara

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top