Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menkeu Korsel Sebut Tambahan Anggaran Stimulus Belum Diperlukan

Ekonomi Korea Selatan masih dapat menghindari kontraksi tahunan pertamanya dalam lebih dari dua dekade jika langkah-langkah stimulus termasuk anggaran tambahan ketiga yang diserahkan kepada parlemen dapat memacu ekspor dan kepercayaan konsumen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  10:23 WIB
Distrik Itaewon di Seoul, Korea Selatan, pusat kehidupan malam yang dipenuhi nightclubs. Tampak semua pengunjung mengenakan masker untuk mencegah penularan Covid-19. - Bloomberg
Distrik Itaewon di Seoul, Korea Selatan, pusat kehidupan malam yang dipenuhi nightclubs. Tampak semua pengunjung mengenakan masker untuk mencegah penularan Covid-19. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Korea Selatan Hong Nam-ki memandang belum perlunya anggaran tambahan keempat tahun ini dan mengatakan bahwa guncangan ekonomi dari pandemi virus Corona mungkin telah mencapai titik terendah.

Dilansir dari Bloomberg, Hong mengatakan ekonomi Korea Selatan masih dapat menghindari kontraksi tahunan pertamanya dalam lebih dari dua dekade jika langkah-langkah stimulus termasuk anggaran tambahan ketiga yang diserahkan kepada parlemen dapat memacu ekspor dan kepercayaan konsumen.

"Kami melihat tanda-tanda konsumsi dan ekspor pulih dari bulan Mei. Apa yang lebih penting daripada menggelontorkan lebih banyak tindakan dan uang adalah memastikan bahwa anggaran ekstra ketiga dan serangkaian kebijakan pada paruh pertama telah disalurkan dengan baik," kata Hong, seperti dikutip Bloomberg.

Pemerintah sejauh ini menjanjikan lebih dari 270 triliun won (US$225 miliar) atau sekitar 14 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk mendukung bisnis dan keluarga yang terdampak pandemi.

Meskipun sebagian besar ekonom memperkirakan PDB Korsel terkontraksi tahun ini untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an, Hong menegaskan bahwa proyeksi pertumbuhan pemerintah sebesar 0,1 persen masih mungkin dicapai jika upaya kebijakan dilaksanakan dengan cepat.

Hong mengatakan ekspor diperkirakan mampu rebound tajam menjelang akhir tahun karena mitra dagang utama membuka kembali perekonomian mereka, dipimpin oleh sejumlah barang ekspor seperti chipset, kapal, dan pasokan medis.

Ekspor Korea Selatan merosot lebih dari 20 persen pada bulan April dan Mei, tetapi data perdagangan awal menunjukkan penurunan tersebut melandai pada bulan Juni di tengah peningkatan permintaan chipset dari China.

"Atmosfer peningkatan ekspor menjadi lebih menguntungkan," katanya, seraya menambahkan bahwa pengiriman keseluruhan kemungkinan masih akan mengalami kontraksi untuk tahun ini.

Langkah-langkah stimulus pemerintah diperkirakan akan menaikkan rasio utang terhadap PDB Korsel menjadi sekitar 43 persen, namun masih rendah dibandingkan dengan rata-rata rasio negara anggota OECD yang mencapai sekitar 110 persen.

Korsel masih memiliki ruang fiskal untuk kebijakan lebih lanjut, meskipun langkah peningkatan utang bisa menjadi perhatian. Pemerintah kini tengah mengusulkan aturan yang membatasi akumulasi utang pada akhir Agustus, kata Hong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korea selatan stimulus

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top