Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sejarah 25 Mei 98: Kabinet Habibie Mulai Bebaskan Aktivis

25 Mei 1998, tepat hari ini 22 tahun lalu, rezim baru BJ Habibie membebaskan aktivis Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar Pakpahan.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 25 Mei 2020  |  18:21 WIB
Mantan Presiden yang juga Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) BJ Habibie (kiri) memberikan paparan saat menjadi pembicara kunci pada sarasehan nasional di Jakarta, Senin (21/5/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A
Mantan Presiden yang juga Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) BJ Habibie (kiri) memberikan paparan saat menjadi pembicara kunci pada sarasehan nasional di Jakarta, Senin (21/5/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Momen kejatuhan Presiden Soeharto pada penghujung Mei 1998 diwarnai dengan reformasi total yang dilakukan penggantinya, Bacharuddin Jusuf Habibie. Salah hal yang dilakukan Habibie untuk menetralisir gejolak kala itu adalah melakukan pembebasan sejumlah aktivis yang sebelumnya ditahan karena tuduhan makar.

25 Mei 1998, tepat hari ini 22 tahun lalu, langkah itu dimulai Habibie dengan membebaskan dua orang, Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar Pakpahan.

"Amnesti dan abolisi diberikan kepada Muchtar pakpahan yang sekarang di tahan di LP Cipinang serta Sri Bintang Pamungkas. Keputusan pembebasan itu disetujui secara aklamasi dalam sidang kabinet," ujar Muladi yang kala itu menjabat Menteri Kehakiman seperti diwartakan Harian Bisnis Indonesia edisi 26 Mei 1998.

Muladi, lebih lanjut, menyebut amnesti dan abolisi tersebut diberikan kabinet Habibie atas beberapa pertimbangan. Misalnya adalah fakta bahwa keduanya merupakan Tahanan Politik (Tapol) kategori pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga dianggap memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Sri Bintang Pamungkas sebagai tokoh pergerakan, reformis, politikus, aktivis, dan juga orator di masa penggulingan Soeharto. Ia ditahan Soeharto lantaran dianggap subversif dan melanggar Undang-undang Anti Subversif dengan membentuk Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) pada Mei 1996. Bintang dibui sejak Mei 1997, saat itu usianya 51 tahun.

Sedangkan nama kedua, Muchtar Pakpahan, dijebloskan ke penjara karena rangkaian disertasi dan buku tulisannya berjudul "Potret Negara Indonesia." Buku tersebut mendorong gagasan reformasi untuk mengatasi berbagai masalah di Indonesia, yang dianggap Soeharto melanggar Undang-Undang. 

Bebasnya Sri Bintang dan Muchtar sesungguhnya hanyalah awal. Seiring berjalannya waktu, nama-nama seperti Budiman Sudjatmiko dan Xanana Gusmao juga dibebaskan oleh pemerintahan Habibie.

Kendati demikian, saat mengumumkan pembebasan keduanya, Muladi menyebut keringanan serupa tidak diberikan untuk tahanan yang terlibat dalam gerakan komunisme dan marxisme. Sebab, kabinet saat itu menilai tahanan golongan ini bersalah karena 'mengancam' keberlangsungan Pancasila dan UUD 1945.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

habibie soeharto
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top