Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Presiden Soeharto tengah berkomunikasi dengan Wakil Presiden B. J. Habibie soal tongkat di Gedung Bina Graha, Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (10/3 - 1998). Arsip Bisnis Indonesia.
Premium

Historia Bisnis : Saat Negara Membantah Habibie Sentris

11 Maret 2020 | 15:41 WIB
Wakil Presiden Indonesia periode 1998-2003, B. J. Habibie mendobrak kebiasaan Pak Harto dalam memilih pendamping. Namun, pak Harto menolak bahwa ini Habibie sentris. Kebutuhan lah yang membuat ia memilih Habibie.

Bisnis.com, JAKARTA - Pemilihan Umum 1998 membawa satu nama yang mendobrak kebiasaan Presiden Soeharto kala memilih wakilnya. Tersebutlah nama Bacharuddin Jusuf Habibie (B. J. Habibie) di sana. Ini adalah keputusan yang tak biasa dari Pak Harto—sapaan Presiden Soeharto.

Pasalnya, tiga pendamping sebelumnya, yakni pada periode 1983 sampai 1998, sosok tangan kanan Pak Harto pasti tak jauh-jauh dari kalangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Mereka adalah Umar Wirahadikusuma (1983 sampai 1988), Soedharmono (1988 sampai 1993), dan Try Sutrisno (1993 sampai 1998).

Maka, keinginan Pak Harto untuk memilih Habibie pun sempat diadang “kerikil”. Misalnya, pernyataan Jusuf Syakir, Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan DPR, sehari sebelum penunjukkan Habibie sebagai Wapres, Selasa 10 Maret 1998.

Jusuf sempat menyindir pernyataan Pak Harto yang mengatakan bahwa Paket IMF untuk penyelamatan ekonomi Indonesia dari krisis 1997-1998 tidak sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Namun, seperti yang disebut terakhir, ini hanyalah krikil. Saat Pak Harto berkehendak, sulit rasanya untuk menafikkan. Dan, pilihan Pak Harto kepada Habibie, didasari banyak hal.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top