Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketika Masyarakat China Kembali Berburu Barang Mewah

Penjualan barang mewah terjun bebas justru saat liburan Tahun Baru China baru dimulai, ketika Beijing mulai menerapkan karantina akibat wabah virus ini.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 12 Maret 2020  |  15:17 WIB
Seorang petugas polisi yang mengenakan masker pelindung berjalan melewati toko Apple yang tutup di Shanghai, China, pada 5 Februari 2020. -  Qilai Shen / Bloomberg
Seorang petugas polisi yang mengenakan masker pelindung berjalan melewati toko Apple yang tutup di Shanghai, China, pada 5 Februari 2020. - Qilai Shen / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Para konsumen di China perlahan mulai kembali ke mal dan butik mewah seiring dengan semakin longgarnya karantina untuk mengatasi wabah virus corona.

Aksi jual beli di sejumlah mal di China melaju pelan setelah sempat merosot hingga 80 persen saat wabah virus corona menyerang China. Penjualan beberapa produk barang mewah misalnya Burberry Group Plc hingga Kering SA’, produsen Gucci, tak luput dari penurunan.

“Para pembeli mulai kembali berbelanja dan kota-kota besar menunjukkan optimisme yang terbatas. Kami melihat ada perbaikan meski masih lambat,” kata Amrita Banta, Managing Director Agility Research, dilansir Bloomberg, Kamis (12/3/2020).

Pembeli dari China setidaknya berkontribusi terhadap lebih dari sepertiga penjualan industri barang mewah di dunia selama beberapa tahun terakhir. Ketika Beijing mulai menerapkan karantina akibat wabah virus ini, penjualan barang mewah terjun bebas justru saat liburan Tahun Baru China baru dimulai.

Namun, industri ini diperkirakan mencatatkan kinerja yang buruk pada kuartal I/2020 akibat wabah virus corona. Tak hanya itu, hub industri mewah misalnya di Italia yang juga menerapkan karantina hingga penyebaran virus di Amerika Serikat sebagai salah satu pasar utama industri ini.

Optimisme juga dinyatakan oleh Chief Executive Officer Micaela Le Divelec Lemmi, Salvatore Ferragamo SpA. “Kami melihat ada perbaikan bisnis di China, meski lambat. Setelah dikarantina selama 1,5 bulan, sudah saatnya kembali ke rutinitas sebelumnya,” katanya.

Andy, Li, warga China yang bekerja di industri teknologi finansial ini pun juga mengungkapkan hal yang sama. Pria berusia 29 tahun ini bahkan sudah mengunjungi Mall Maoye yang berada di Provinsi Shanxi untuk ketiga kalinya, sejak syarat karantina mulai dilonggarkan.

“Saya terjebak di rumah selama satu bulan penuh. Kompleks perumahan kami dikunci, dan semuanya tidak diperbolehkan keluar. Sekarang saya merasa bebas lagi,” ujarnya.

Dia pun mengungkapkan telah berusaha berbelanja secara daring selama masa karantina, tetapi produk yang dibelinya terjebak di bea cukai karena sistem logistis masih terhambat.

Hermes menyatakan telah membuka semua tokonya, kecuali dua tokonya yang berada di China daratan. Akibat wabah virus corona, Hermes terpaksa menutup 11 tokonya di China.

Sementara itu, Chow Tai Fook Jewellery Group Ltd., produsen perhiasan dengan penjualan terbesar di dunia, menyatakan 85 persen dari total 3.600 tokonya di China telah beroperasi secara normal pada pekan ini.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Boston Consulting Group and Sanford C. Bernstei, wabah virus corona berpeluang memangkas penjualan di industri ini hingga 40 miliar euro (US$45 miliar) pada tahun ini.

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china barang mewah Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top