Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Dilema Pembakaran Mayat Korban Virus Corona

Menurut perintah kremasi NHC: "Jika anggota keluarga pasien nCoV-2019 menolak untuk mengikuti prosedur atau menolak untuk mematuhi, maka lembaga medis telah gagal membujuk mereka.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  08:39 WIB
Tim medis melakukan pemeriksaan terhadap seorang pasien saat kegiatan simulasi penanganan virus Corona di RSUD Dr. Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (1/2/2020). -  ANTARA / Yusuf Nugroho
Tim medis melakukan pemeriksaan terhadap seorang pasien saat kegiatan simulasi penanganan virus Corona di RSUD Dr. Loekmono Hadi, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (1/2/2020). - ANTARA / Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA - Perintah yang dikeluarkan oleh otoritas kesehatan tertinggi China untuk segera melaksanakan pembakaran mayat (kremasi) atas para korban virus corona di rumah sakit tempat mereka meninggal dinilai sebagai reaksi berlebihan dan tidak perlu untuk mengekang penularan penyakit, kata ahli epidemiologi terkemuka.

Perintah dari Komisi Kesehatan Nasional (nhC) pada 2 Februari 2020, mengharuskan rumah sakit untuk memberi tahu anggota keluarga atas tindakan tersebut. Akan tetapi, komisi itu juga menyatakan prosedur itu bisa tetap dilakukan sekalipun keluarga almarhum tidak setuju.

Menurut perintah kremasi NHC: "Jika anggota keluarga pasien nCoV-2019 menolak untuk mengikuti prosedur atau menolak untuk mematuhi, maka lembaga medis atau panti kremasi telah gagal membujuk mereka. Karena itu, mayat tersebut dapat dikremasi dengan tanda tangan lembaga medis,.

Sedangkan, otoritas keamanan publik yang mengawasi daerah tersebut harus melaksanakan pekerjaan mereka sesuai perintah.
Perintah itu juga melarang upacara pemakaman bagi mereka yang telah meninggal karena virus berpotensi mengancam peserta upacara keagamaan maupun keluarga dan seluruh masyarakat yang berduka.

"Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa virus corona dapat menyebar dari mayat selama persiapan penguburan," kata Ronald St John.

Dia adalah mantan direktur jenderal Pusat Kesiapan dan Tanggap Darurat di Badan Kesehatan Masyarakat Kanada yang terlibat menangani Wabah SARS pada 2003.

"Itu bukan kasus untuk Ebola, di mana banyak perawatan harus dilakukan dengan memusnahkan mayat," kata St John seperti dikutip Aljazeera.com, Senin (10/2/2020).

Akan tetapi, dia setuju kalau dilakuan kremasi sehingga tidak banyak menggunakan tempat selain lebih cepat jika jumlah korban tewasnya banyak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china virus corona
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top