Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Darurat Virus Corona Meluas, Dunia Krisis Masker dan Respirator

Khusus masker bedah yang menutupi seluruh tubuh selain mata sangat kekurangan yang membuat masyarakat kian panik.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  08:17 WIB
Penumpang mengenakan masker pelindung melakukan perjalanan di atas kereta api yang dioperasikan oleh MTR Corp di Hong Kong, China, pada hari Selasa, 4 Februari 2020. Hong Kong melaporkan kematian akibat virus corona, mengonfirmasikan kematian kedua di luar China daratan, di mana hampir 20.500 kasus memiliki telah dilaporkan. - Bloomberg
Penumpang mengenakan masker pelindung melakukan perjalanan di atas kereta api yang dioperasikan oleh MTR Corp di Hong Kong, China, pada hari Selasa, 4 Februari 2020. Hong Kong melaporkan kematian akibat virus corona, mengonfirmasikan kematian kedua di luar China daratan, di mana hampir 20.500 kasus memiliki telah dilaporkan. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kurang dari dua pekan sejak Pemerintah China mengarantina 35 juta orang di Kota Wuhan dan daerah sekitarnya untuk mengendalikan penyebaran virus corona, kepanikan mulai terjadi setelah persediaan masker dan alat respirator menipis.

Khusus masker bedah yang menutupi seluruh tubuh selain mata sangat kekurangan yang membuat masyarakat kian panik.

Apalagi, warga Wuhan diwajiban menggunakan masker di depan umum. Sebuah rekaman yang diposting ke jaringan sosial Weibo menunjukkan petugas polisi menggunakan drone dan pengeras suara untuk memarahi orang yang berani keluar tanpa masker.

Bagi negara selain China persoalan kekurangan masker juga jadi masalah akibat wabah virus corona yang menyebar cepat ke luar negara itu. Pasalnya, manufaktur China adalah sumber dari sebagian besar masker dan respirator dunia.

Sekarang, karena negara yang luas itu menggunakan lebih banyak masker, maka persediaan untuk negara lain menjadi berkurang termasuk untuk Amerika Serikat (AS).

Menurut data yang dikumpulkan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, 95 persen masker bedah yang digunakan di AS dan 70 persen respirator dibuat di luar negeri.

Karena itu, pasokan masker untuk negara itu menjadi rentan terhadap gangguan ketenagakerjaan jika wabah itu membuat para pekerja manufaktur pingsan.

"Ini 100 persen soal kerentanan," kata Saskia Popescu, pakar biosekuriti yang merupakan ahli epidemiologi pencegahan infeksi senior dalam sistem rumah sakit negara bagian Arizona seperti dikutip situs berita wired.com, Rabu (5/2/2020).

Peralatan pelindung pribadi selalu akan menjadi masalah ketika ada wabah baru karena panduan kesehatan masyarakat pada awalnya tidak jelas sehingga akan ada kekurangan pasokan.

Permintaan akan masker sangat besar di China. Manufaktur telah meningkatkan produksi mereka secara  pesat, menurut Jaringan Televisi Global China yang berafiliasi dengan negara.

Pabrik China hanya mampu menghasilkan 20 juta masker per hari. Namun, pada Senin (3/2/2020) pagi, Kementerian Luar Negeri China menyatakan maskeer dan kacamata keselamatan yang melindungi mata dokter mulai menipis di dalam negeri, sedangkan permintaan telah meluas di seluruh dunia.

Ada juga laporan tentang topeng yang terjual habis di toko-toko dan online di Eropa dan AS. Sedangkan pabrik-pabrik di Eropa dan Asia beroperasi 24 jam sehari untuk melayaninya.

Kesenjangan rantai pasokan tidak hanya akan menimbulkan risiko jika virus baru menyebar melampaui 11 kasus yang sejauh ini telah diidentifikasi di AS.

Hal itu bisa menjadi risiko karena masker dan respirator sangat penting untuk perawatan kesehatan sehari-hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china industri masker wajah virus corona
Editor : Nancy Junita
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top