Saat Gas Air Mata Membuat Lehermu Tercekik dan Oksigen Susah Naik ke Otak

Unjuk rasa ribuan mahasiswa dan sejumlah organisasasi di depan gedung DPR kemarin berakhir ricuh. Ratusan jurnalis dalam dan luar negeri ikut terlibat dalam memberitakan kondisi tersebut.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 25 September 2019  |  20:55 WIB
Loading the player ...
Suasana saat Polisi menembakkan water cannon ke arah mahasiswa di depan Gedung DPR - Bisnis/Feni Freycinetia Fitriani

Bisnis.com, JAKARTA - Unjuk rasa ribuan mahasiswa dan sejumlah organisasasi di depan Gedung DPR, Selasa (24/9/2019) berakhir ricuh. Ratusan jurnalis dalam dan luar negeri ikut terlibat dalam memberitakan kondisi tersebut. Salah satunya adalah jurnalis Bisnis Indonesia Feni Freycinetia Fitriani.

Feni berbagi cerita tentang apa yang dialami dirinya saat meliput rusuh yang terjadi pada Selasa, 24 September 2019 itu.

Meliput aksi demonstrasi memberi tantangan tersendiri bagi Feni. Banyaknya massa dan dinamisnya kondisi di lapangan membuat jurnalis harus memasang mata dan telinga dengan saksama.

"Hal tersebut selalu saya terapkan ketika meliput aksi massa, termasuk saat demonstrasi mahasiswa pada Selasa kemarin," ujar Feni, Rabu (25/9/2019).

Bayangkan ketika kau sedang makan bakso yang super pedas, lalu tiba-tiba tersedak dan matamu panas terkena cipratan sambal. Ya, memang begitu rasanya: perih dan sesak. Lehermu tercekat seakan ada yang mencekik, membuat oksigen susah naik ke otak.

Tak hanya itu, banyak peserta demonstrasi membuat Feni harus cermat mencari posisi yang tepat. Setiap jurnalis menurut Feni dituntut melaporkan semua kejadian secara aktual dan faktual bagi kepentingan masyararakat.

Menurut Feni, tuntutan itu tak bisa terpenuhi apabila dirinya atau wartawan lain tak bisa menjaga diri. Alih-alih menuliskan detik-detik bentrokan, wartawan justru tidak bisa kabur dari kejaran aparat, lemparan batu pengunjuk rasa, atau tembakan gas air mata.

Semula saat aksi 24 September masih berlangsung damai, Feni berada di tengah-tengah mahasiswa. Namun, melihat semakin banyak massa dan tidak kondusifnya situasi di depan pagar gedung DPR, dia berpindah ke jembatan penyeberangan orang (JPO).

Jelang pukul 16.00 WIB, massa terus berdatangan. Mereka saling berpegangan tangan dan mulai menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Feni melihat langsung bagaimana mahasiswa yang berada di barisan depan memanjat dan mencoba menerobos gedung Dewan 30 menit berselang. Sementara itu, Polisi yang berada di dalam DPR, langsung siap siaga.

Aparat kemudian menyiram massa demonstrasi dengan air dari mobil water cannon untuk memukul mundur pengunjuk rasa. Bukannya surut, mahasiswa justru semakin agresif membobol gerbang DPR.

Polisi pun langsung menembakkan gas air mata ke arah massa mahasiswa, itu terjadi tepat pukul 16.30 WIB. Ribuan mahasiswa yang awalnya berdiri dekat gerbang langsung berlari menjauhi gedung DPR RI.

"Saya dan beberapa jurnalis langsung mencari tempat yang aman. Awalnya saya berlindung di bawah JPO untuk melaporkan bahwa polisi sudah melontarkan gas air mata ke arah demonstran.

Setelah selesai menelepon atasan, Feni melihat mahasiswa mulai berteriak karena Polisi memperluas area tembakan gas air mata. 'Mundur! Mundur! Awas gas air mata', kata Feni mengulang kalimat yang diteriakan sejumlah massa.

Feni pun ikut merasakan terpaan gas air mata yang menganalogikan efek tear gas bagaikan cipratan sambal bakso super pedas.

"Bayangkan ketika kau sedang makan bakso yang super pedas, lalu tiba-tiba tersedak dan matamu panas terkena cipratan sambal. Ya, memang begitu rasanya: perih dan sesak. Lehermu tercekat seakan ada yang mencekik, membuat oksigen susah naik ke otak," tutur Feni.

Tak lama, dia kembali berlari mencari lokasi aman. Sambil menyelamatkan diri, Feni mulai melihat beberapa mahasiswa berjatuhan. Dia sempat mencari perlindungan ke bawah jembatan layang Bendungan Hilir.

Kondisi sempat mencekam, Feni tidak bisa berlama-lama di titik itu karena tidak diizinkan Polisi. Apalagi tembakan gas air mata kembali membuatnya harus berlari ke arah jalan Asia Afrika, hingga berakhir di kantor TVRI.

Di lokasi itu, sudah ada tenaga medis dan beberapa dosen yang siaga menolong mahasiswa yang terluka.

Para korban dikumpulkan di ruang lobby utama gedung TVRI. Mahasiswa yang masih bugar mencoba merebahkan diri, membuatkan air hangat, dan mengoleskan minyak angin di badan para korban.

"Pemandangan tersebut membuat saya terenyuh. Mungkin tidak pernah terpikirkan di kepala mereka akan melewati situasi seperti hari itu. Para mahasiswa yang ikut demonstrasi sebelumnya mungkin hanya memikirkan pelajaran, pergaulan, dan percintaan," sebut Feni.

Kemarin, ribuan mahasiswa itu mulai belajar soal dinamika kehidupan dari jalanan. Secara tak langsung, mahasiswa yang disebut Feni sebagai Generasi Z itu mulai sadar bahwa rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) akan mengusik sendi-sendi keseharian.

"Sudah kelewatan kalau kaum rebahan sampai turun ke jalan," tutur Feni mengutip poster yang diangkat salah satu demonstran di Senayan, Selasa (24/9/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dpr, ruu kuhp

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top